23 Mei 2010

Sparkling Surabaya Heritage, Photography Competition.


Masih dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, kembali disajikan sebuah acara yang dikemas dalam TO SURABAYA WITH LOVE : Sparkling Surabaya Heritage yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Mei 2010, acara ini disponsori oleh sebuah toko buku dan beberapa perusahaan da radio yang ada di kota Surabaya.
Satu hari sebelum dlaksankan acara ini saya telah mendaftarkan dahulu, sebab karena menurut saya ini adalah acara yang sangat cocok dan sesuai dengan kegemaran saya yaitu, yang berhububgan dengan heritage makanya saya tak ingin ketinggalan untuk ikut serta acaranya meski, awalnya saya sempat ragu karena acara yang berhubungan dengan competition photographi inilah yang pertama saya ikut, tapi dasar karena sudah kadung cocok dengan lebel yang ada dalam acara ini maka aku beranikan untuk mengikutinya.
Sabtu pagi jam 09.00 WIB kurang saya bersama teman dan anaknya sudah berada di tempat start kegiatan ini.Saya lihat pesertanya sudah lumayan banyak dan ketika saya datang, banyak peserta yang telah menunggu untuk diberangkatkan. Setelah saya registrasi saya langsung diberi kaos seragam dan bebrapa perlengkapan serta souvenir dari para sponsor.
Seperti yang saya katakan bahwa pesertamya ternyata benar cukup banyak dan harus dibagi dalam 4 bus, yang rata-rata sisnya 55-60 orang / bus. Karena peminatnya yang cukup banayak, panitia terpaksa harus mengganti salah satu bus nya dengan bus yang lebih besar karena ternya masih banyak peserta yang belum dapat tempat duduknya.
Setelah beberapa lama kita nunggu dapat pengganti bus, rombongan siang tu langsung ke tempat tujuan yang pertama : MONUMEN TUGU PAHLAWAN.






Patung Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, dilingkungan monumen Tugu Pahlawan.





Mode bergaya di pilar Patung Ir. Soekarno










Seperti dalam peraturan kompetisi kali ini bahwa, peserta wajib mengambl obyek foto heritage dan model sebanyak mugkin, kemudian diserahkan kepada panitia untuk dinilai dengan ketentuan bahwa para peserta mengumpulkan max. 4 foto yang terdiri dari foto model dan foto heritage.
Setelah selesai di lokasi yang pertama maka rombongan yang terdiri dari 2 bus yang merupakan kelompok saya, perjalan dilanjutkan ke lokasi yang kedua yaitu : HOTEL MAJAPAHIT, Jl. Tunjungan.
Didalam lokasi Hotel Mojopahit ini rombongan lansung disuruh masuk, karena hotel ini hanya memberikan waktu yang tidak lama, jadi peserta diminta untuk menggunakan waktu secara maximal, dan inilah waktu yang aku tunggu-tunggu, karena tidak sembarang orng dan waktu hotek ini bisa bebas dimasuki apalagi untuk diambil foto-fotonya kecuali tamu hotel maka, kesempatan ini saya gunakan dengan sebaik-baiknya dan saya mengambil beberapa lokasi yang ada di dalam hotel ini sebanyak-banyaknya, dan untuk ini foto-foto yg saya ambil akan saya tampilkan dalam kesempatan yang lain.
Selesai ambil foto di lokasi Hotel Majapahit, kembali rombongan dibawa ke lokasi selanjutnya, di lokasi yang ketiga, GEDUNG NEGARA GRAHADI, Jl. Gubernur Suryo.
Lokasi Gedung Negara Grahadi ini bagi saya pribadi sangatlah tidaklah asing sebab, hampir setiap harinya saya melewati depan lokasi ini karena, kebetulan si kecil bersekolah tepat di depan gedung Grahadi.
Di lokasi ini seperti dilokasi yang lainnya, saya langsung mengambil beberapa sudut gedung dan model yang berpanas-panasan di halaman gedung ini.
Selesai kami meninggalkan Gedung Negara Grahadi, kemudian rombongan menuju ke tempat yang tak jauh dari gedung ini, dan ini adalah ujuan kita yang ke empat yaitu , komplek MASJID MOHAMMAD CHENG HO.
Sebuah masjid yang didirikan oleh saudara-saudara kita yang ber etnis Tionghoa tetapi sduah memeluk agama Islam, dan disnilah komunitas ini biasanya melaksanakan kegiatan beragamanya.
Seperti kita ketahui bahwa masjid ini dibangun dengan bergaya mandarin, baik secara fisik maupun cat-cat yang digunakan dipastikan bergaya bangunan Cina.
Selesai di lokasi yang ke empat, perjalanan rombongan berjalan ke arah timur dan menuju ke titik point yang terakhir yaitu ke enam, JEMBATAN SURAMADU.

Sebagai empat yang masih tergolong baru dan merupakan lokasi yang masih dibilang favorit oleh masyarakat Surabaya dan Masyarakat luas, mengambil foto disini sangatlah menarik bagi saya, yang lagi belajar ber foto ria, saya jepret sana, jepret sini, pokonya sangat menarik selain lokasi yang lain yaitu Hotel Mojopahit.
Dan tanpa terasa saking asyiknya, panitia memberi komando untuk segera naik bus dan kembali ke Tunjungan Plaza untuk kemudian para peserta kompetisi inimenyerahkan beberapa file fotonya dan, venar karena perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk di setiap lokasinya [ kira-kira 30 menit ] maka tanpa terasa ketika kami tiba di lokasi finish acara ini, hari sudah menunjukkan sore hari.
Sungguh perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa terasa saya telah menghabiskan waktu hampur 7 jam lebih bersama sahabat-sahabat yang lain familiar dan mengasyikkan, tentu hal ini membuat kami ingin mengulangi kompetisi kesemptan yang lain,karena dari hal-hal seperti inilah saya dapat belajar banyak tentang fotograpfi semoga !!!!!!

Lanjut Kang......

19 Mei 2010

Parade Budaya 2010

Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak menulis disini, entah mengapa kok bisa lama sekali saya tak punya gairah untuk menulis, dan kemudian dijadikan postingan, saya sendiri heran kenapa, padahal menurut saya ya ....biasa-biasa saja, dan celakanya karena kemalasan ini sebetulnya ada beberapa moment yang seharusnya bisa dijadikan tulisan di blog ini, dan lewat begitu saja.
Tapi untuk yang satu ini saya tak igin melewatkan begitu saja karena beberapa pertimbangan yaitu, untuk agar saya tak bermalas-malasan yang berkepanjangan dan yang menjadi alasan keduanya adalah karena peristiwa yang saya tulis ini adalah dalam rangka memperingati haru ulang tahun kota Surabaya yang ke 717, dan saya sebagai warga Surabaya ingin untuk sekedar berpartisipasi dengan menulis peristiwa menarik ini disini.
Sudah menjadi kegiatan tahunan oleh Pemkot Kota Surabaya, nampaknya Parade Budaya ini akan dijadikan kegiatan routin dalam rangka menyambut hari jadi kota Surabaya, dan tahun ini parade tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2010 dan inilah beberapa catatan dari kegiatan tahun ini yang sempat saya tulis disini.
Parade Budaya kali ini, seperti tahun yang lau dilaksanakan pada sore hari denga pertimbangan kondisi udara Surabaya tidak begitu panas dan yang pertama saya memyaksikan adalah mobil hias dari DINAS INKOMINFO.

Mungkin acara ini dilasanakan atas prakasa dari Dinas Kominfo maka, mobil dinas inilah yang berada paling depan dan seperti taun yang lalu makan selanjutnya akan diteruskan dengan pasukan pembawa bendera Merah Putih, yang berjajar dengan gagah dan kelihatan berwibawa.



Kelompok Drum Band dari Taruna Angkatan Laut, Bumimoro, Ujung Surabaya.




Ini juga peserta yang menampilkan mobil hias nomer dua, sebuah sajian dari DINAS KEERSIHAN DAN PERTAMANAN Kota Surabaya.


Mobil hias dengan pesona daerah, inilah peserta yang datang dari Yogyakarta.







Ini juga peserta byang paling membuat penonton kagum, sebuah sajian dari pulau Madura, mobil yang dirancang sedemikian rupa dan digunakan untuk membawa perlatan tradisional perkusi.

Salah satu peserta yang menampilkan keserasian dan pakaian yang memikat.






Itulah sebagian para peserta PARADE BUDAYA dalam rangka HUT kota Surabaya yang ke 717, semoga pesta ini akan berlanjut di tahun yang akan datang,
SELAMAT HARI JADI KOTA SURABAYA, semoga akan menjadi kota yang ramah, dan nyaman buat warganya.

Lanjut Kang......

Mengapa lagi males ngeblog

Sudah hampir lebih dari tiga bulan sejak postingan terakhir saya, entah mengapa ? padahal banyak sekali yang mustinya  bisa di tulis disini, ada banyak kegiatan yang dilaksankan, banyak kejadian yang mestinya dikabarkan, tetapi mengapa semua berlalu begitu saja, bahkan untuk menulis parade budayapun saya harus mengakhri hanya sampai di draff saja, tak dapat kuteruskan, mbundel cupet wangsit hehehehe......tapi bagi temen2 yang suka jelajah jajan dan ingin ngicipi bersama, bisa kok klik di blog saya yg disini saya malah lagi banyak nrocos disana........

Lanjut Kang......

2 Januari 2010

Sebenar-benarnya aku ingin makan getuk di Gethukan



Pertemuan ini sebenarnya-benarnya sudah saya gadang-gadang sejak saya mengetahui akan dilaksankan acara oleh Balatidar yang tergabung dalam komunitas blogger Pendekar Tidar pada awal tahun baru tanggal 2 Januari 2010 di Kota Magelang bertempat di ringin alon-alon Kota Magelang yang rencananya dijadwalkan jam 15.00 WIB, mengapa saya ingin sekali ikut ?
ada beberapa yang membuat saya kepingin sekali menghandiri yaitu ; Sejak terbentuknya komunitas ini saya belum pernah sekalipun bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang telah dilaksanakan selama ini juga, maka ketika saya bisa hadir kali ini saya berharap bisa ketemu dan bersilahtaurahmi dengan teman-teman yang akrab di dunia maya, kedua ; pertemuan ini adalah pertemuan untuk meresmikan acara GETHUKAN, yaitu sebuah istilah yang digunakan oleh Bala Tidar sebagai istilah untuk menamai pertemuan yang diselenggarakan tiap Saptu [ kalau tak salah tiap minggu 1dan 3 ].
Namun mungkin belum waktunya saya bisa bertemu dan bersilahturahmi dengan sahabat-sahabat Bala Tidar saat ini, sebab rencananya saya Jum'at 1-1-2010 saya sudah berangkat meunju Magelang, tapi dasar belum waktunya, badan saya malah deman, panas dan dingin, ditambah batuk yang sakit sehingga si Non menyarankan untuk sementara janengan bepergian dahulu ke Magelang karena saya sedang sakit, ya karena memang badan juga rasanya capai sekali, maka dengan barat hati saya mengurungkan untuk berangkat ke Magelang.
Untuk ini, saya pribadi sangat kecewa, mohon maaf dan berharap semoga Gethukan ini dapat berjalan dengan bai.
Tulisan ini saya sampaikan sebagai mohon permintaan maaf saya karena ketidak hadiran di acara tersebut dan sebagai jalin silahturahmi buat Bala Tidar yang nanti sore datang di acara ini; selamat melaksanakan pertemuan semoga akan gayeng, menghasilkan hal-hal yang posotif dan sukses selalu.

Lanjut Kang......

29 Desember 2009

Malioboro Tahun Baru 1431 H.

Mengunjungi kota budaya Yogyakarta selalu tidak membosankan seperti hari ini. Meskipun sering pergi ke kota ini seakan selalu ada hal yang baru dan menarik dan inilah hal yang menjadikan tak bosan-bosannya berkunjung ke kota pelajar ini, kota Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.
Juga ketika liburan tahun baru Islam kemarin, yang secara kebetulan jatuh pada hari Jum'at, maka sampai Senin adalah long weekend bagi sebagian masyarakat, termasuk saya.
Tahun yang lalu liburan tahun baru Islam juga saya sempatkan untuk ke Yogja, dan saya berkesempatan menyaksikan upacara Grebeg Kraton, yang routin selalu diselenggarakan oleh keraton Jogja setiap tahun baru Hijriah dan menjadi daya tarik masyarakat Jogja khususnya dan masyarakat luar pada umumnya, namun karena lupa dan baru ingat setelah sampai di Magelang, padahal sebelumnya sampai di Jogja jam nya masih terlihat pagi dan saya teruskan untuk lihat grebeg tadi, tapi hari itu saya langsung menuju ke Magelang, dan ingat kalo ada acara itu pada siangnya ketika saya akan dolan ke Jogja....duh ruginya aku.... capek deh.


Dasar kaki tak bisa diam dan inginnya main saja kalau sudah sampai ndeso, maka hari itu saya bersama non, kakak dan keponakan-keponakan sepakat untuk melancong ke Jogyakarta dengan tujuan Malioboro, Jadilah hari itu kita berlima meluncur dan tiba di Jogja pada siang hari.
Tempat tujuan kita yang utama di Jogja adalah pertama berbelanja batik-batik di Pasar Bringharjo, Pasar tradisional ini selalu menjadi jujugan pertama bagi para pelancong yag ingin mendapatkan cinderamata dari kain-kain, khususnya kain batik, kain maupun segala baju-bajau bermotof batik udah didapatkan disini dengan corak dan harga yang variatif, tetapi menurut kami rata-rata harga disini cukup murah.

Menyusuri lorong dipasar ini terasa panas, banyak pengunjung memenuhi seluruh lorong-lorong yang ada di los pasar itu, bahkan saking banyak banyaknya pengunjung, baik yang mau beli sesuatu atau hanya sekedar melihat-lihat saja menjadikan udara terasa panas, dan itu membuat saya menolak diajak masuk kedalam, karena panas dan sudah beberapa kali disana, jadi lebih baik saya nunggu di pintu gerbang masuk pasar.
Sambil menunggu rombongan belanja di pasar, dasar lidah gatel, melihat makanan yang dijajakan persis didepan pitnu masuk pasar hati jadi tergoda.


dan dengan semangatnya aku pesan satu pincuk pecel untuk saya nikmati, sambil menunggu selesainya Non dan yang lain berbelanja

Menikmati pecel yang menggiurkan itu membuat saya lupa, tak terasa kalau Non dan yang lain sudah selesai berbelanja, dan langsung kutarik tangannya untuk segera meneruskan perjalanan menyusuri jalanan Malioboro yang lain.
Disepanjang jalan ii tak henti-hentinya saya selalu dibuat seneng dan kagum pada beberapa cinderamata yang ditawarkan, meskipun sering saya mengujungi jalan ini, tetapi selalu tak puas-puasnya saya menyempatkan membeli berbagai cinderamata yang menarik hati, khususnya t-shirt yang dijual lumayan murah.

Dan setelah beberapa saat mondar mandir kaya seterika akhirnya Non dan yang lain selesai berbelanja, tanpa menunggu lama lagi langsung aku ajak jalan menuju ke parkir kendaraan.
Dasar tangan gatal, sudah berbelanja beberapa waktu kebutuhan untuk oleh-oleh, masih saja di sepanjang jalan Non menawar sana sini untuk membeli yang lain.Tak ketinggalan saya, daripada bengong melihat ibu-ibu podo nawar barang, saya gunakan untuk memanjakan mata dengan elihat-lihat kerajinan yang bertumpuk tumpuk disana, dan salah satunya yang menarik mata saya adalah kerajinan sepeda dan becak-becak mini ini, sungguh detail mainan ini sesuai dengan aslinya, bahkan cenderung rapi dan tidak asal-asalan yang membuatnya.

Selesai berbelanja dan puas menikmati kermaian Malioboro kami sekeluarga meneruskan perjalanan untuk pulang, sebab hari itu sudah sore, saya tak ingin sampai di Magelang sudah malam, meskipun dekat tapi baiasanya jalan akan macet, khsusunya jalan masuk ke Magelangnya, jadi kami segera bergegas untuk pulang, tapi ditengah perjalanan saya ingat, kalau kita-kita ini sesdari siang belum makan siang, cuma saya aja yang sudah mencicipi pecel depan pasar tadi, jadi kami putuskan untuk mencari rumah makan dan akhirnya setalah dalam perjalanan kami mencari-cari maka sampailah kami di rumah makan ayam goreng mBok Berek.

Melihat bangunan ini, saya menduga kalau Rumah Makan ini masih baru, dan ternyata benar setyelah saya berhenti dan masuk ke halamannya, rumah makan ini baru diresmikan bulan November kemarin.
Dengan menempati halaman persis di samping jalan utama Jogja- Magelang, rumah makan ini tergolong mudah dijangkau. dan tentu sebagai rumah makan yang nJawani rumah makan ini mendekor bangunannya dengan gaya rumah desa, banguna yang penuh dengan pohon bambu dan atapnya bukan genteng.


Seperti rumah makan mBok Berek yang lain, rumah makan ini juga mengandalkan menu utamanya pada ayam goreng dan yang kami pesan adalah ayam goreng kremes dengan minum jeruk hangat, ditambah beberapa makanan yang lain sebagai pelengkap hidangan.


Makan dan minum yang saya pesan
Selesai menikmati hidangan dan merasa udah kenyang dan perut sudah tak menyanyi lagi, maka kami segera meninggalkan kota Jogja dengan perut yang sudah terisi, kenyang.....samapi di Magelang hari sudah sore dan sampai di rumah saya bergegas untuk mandi, sebab badan sudah terasa capek dan kotor, dan ingin istirahat sebentar karena malem saya sudah janjian sama keponakan-keponakan untuk jajan nasi goreng di tempat langganan kita.

Lanjut Kang......

20 November 2009

Menengok Kebesaran Majapahit

Sudah lebih dari 700 tahun peradaban Majapahit berlalu, namun kita punya keteguhan bahwa kebesarannya bukanlah sekedar sebuah memori, keunggulannya menjadi sumber inspirasi untuk menumbuhkan spirit dan mencipta karya yang bermanfaat bagi generasi sekarang.
Itulah sebait kata- kata yang tertulis dalam buku yang berjudul Mengenal Kepurbakalaan MAJAPAHIT Di daerah Trowulan.

Sungguh mengupas perjalanan sebuah kerajaan yang pernah ada di Nusantara adalah sangat menarik, apalagi kalau kitamembahas tentang sebuah kerjaan yang pernah tumbuh dan berkembang dan menjadi satu kerajaan yang besar yaitu kerajaan MAJAPAHIT, bahkan dalam sebuah catatan kerajaan Majapahit daerah kekuasaannya tersebar tidak hanya di Nusantara tetapi sampai di Asia Tenggara.
Kerajaan Majapahit sendiri didirikan oleh Raden Wijaya, beliau adalah raja pertama di Majapahit. Dan kerajaan ini awalnya berada di daerah Tarik dan karena di daerah tersebut banyak tumbuh pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaannya dinamakan Majapahit.
Dalam perkembangannya setelah Raden Wijaya memimpin kemudian diganti oleh Kaligemet atau Raden Jayanegara, selanjutnya karena terbunuh Jayanegara diganti oleh raja Patni dan bersama dengan patihnya Gajah Mada raja Patni berhasil menegakkan kembali kewibawaan Majapahit dan walau dalam perkembangan Majapahit pernah dibagi menjadi dua, tetapi akhirnya Majapahit dapat disatukan kembali.
Itulah sekelumit sejarah kerajaan Majapahit yang bisa disampaikan, sekedar untuk mengingat kembali betapa Kerajaan Majapahit bisa menjadi kerajaan yang termasyur di pelosok Nusantara bahkan sampai di benua Asia.
Situs bekas kota kerajaan Majapahit sampai sekarangpun dapat disaksikan yaitu di daerah Trowulan yang dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung yaitu, Gunung Penanggungan, Welirang dan Anjasmara.
Situs peninggalan kerajaan Majapahit ini  melalui penelitian yang panjang dan pertama kali oleh Wardenaar pada tahun 1815 dan secara terus menerus yang akhirnya sampai pada dilanjutkannya oleh Bupati Mojokerto yaitu R.A.A. Kromodjojo Adinegoro (1849-1916) dan penelitian ini tanpak intensif setelah beliau mendirikan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit ( OVM ) dan bekerja sama dengan Ir. Henry Meclaine Pont.


R.A.A. Kromodjojo Adinegoro inilah bersama dengan Ir. Henry Meclaine Pont yang kemudian yang secara intensif mengadakan penelitian-penelitian tentang situs Trowulan ini dan kemudian kantor yang dijadikan penelitian itu dijadikan meseum yang digunakan untuk memamerkan benda-benda peninggalan Majapahit.

Pada tahun 1926 terbuka untuk umum dengan nama Museum Purbakala Trowulan bertempat di Jalan Raya Surabaya - Jombang  Km.13.
Pada tahun 1987 dipindahkan ke Gedung Baru dengan nama Balai Penyelamatan Arkeologi (BPA) dan pada tanggal 1 Januari 2007 diganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit.


Penelitian yang dilakukan oleh Maclaine Pont antara tahun 1921-1924 adalah dengan maksud untuk mencocokkan dengan uraian yang ada di buku Negarakertagama, dan akhirnya dihasilkan Sketsa Rekontruksi Kota Majapahit di Trowulan.
Hasil penggalian situs Trowulan menunjukkan bahwa disini tempat terakumulasinya aneka jenis benda yang biasa disebut kota ini, tidak hanya situs tempat tinggal saja, tetapi juga terdapat situs-situs yang lain, seperti situs agama, situs upacara dan lain-lain termasuk didalamnya adalah situs waduk yang saat saya kesana saya bisa menyaksikannya secara langsung.
Pelestarian yang telah dilakukan telah menghasilkan rencana induk pelestarian untuk melindungi situs yang ada di trowulan.
Berdasarkan kegiatan arkeologis yang dilakukan menunjukkan bahwa situs ini merupakan situs penting dalam dunia arkeologi di Indonesia.

Dibawah ini saya coba untuk menampilkan beberapa foto yang sempat saya ambil ketika saya jelajah di bekas kerajaan Majapahit kemarin, dan inilah hasilnya :

 SURYA MAJAPAHIT adalah suatu bentuk ciri khas Kesenian jaman ini, peninggalan ini berbentuk lingkaran yang melambangkan sinar matahari, pada bagian dalamnya terdapat relief sembilan dewa yaitu ; dewa Siwa, Iswara, Mahadewa, Wisnu, Brahma, Sambhu, Rudra, Mahesora dan Sangkara. Sedang dewa minor berada pada sinar yang memancar, yang terdiri dari dewa Indra, Agni, Yama, Nrrti, Baruna Bayu, Kuwera dan Isana. Secara fungsional Surya majapahit berada di langit-langit candi dan atau terdapat di sandaran atau bagian belakang arca (stella) dan nisan-nisan kuno dari makam Tralaya.


Arca ini merupakan penggambaran dari miniatur candi, dimana  digambarkan terdapat relief cerita Hindu, mengenai pencarian air kehidupan ( Amerta ).

Arca Wisnu naik Garuda ini menceritakan Garudaya yang menggambarkan cerita asal muasal Garuda menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Arca ini diperkirakan di temukan di relung utama percandian belahan dan diperkirakan arca ini adalah perwujudan dari Raja Airlangga, seperti dalam ceritanya bahwa Raja Airlangga setelah membagi kerajaan menjadi kerjaan Jenggala dan Panjalu beliau mengundurkan diri dan menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Semasa pemerintahan Airlangga, beliau telah bisa meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan dan saat Airlangga wafat beliau diwujudkan sebagai Dewa Wisnu Sang Penyelamat dan pemelihara dunia, yang sedang mengendarai burung garuda.

ARDHANARI adalah sebuag arca perlambangan persatuan dewa Ciwa dan istrinya Parwati, oleh karenanya ia diwujudkan setengah pria dan setengah wanita.

Ganesha adalah anak Dewa Siwwa dengan Dewi Perwati. Ganesha mempunyai beberapa nama antara lain; Ganapati, Vighnaraja / Sidhinata, tapi lebih populer dengan sebutan Ganesha. Dalam Mitologi Aparajita Pracca, Ganesha disebutkan mempunyai ciri-ciri : Kepala Gajah, 2 tangan dibelakang masing-masing membawa peracu  akasamala, 2 tangan depan masing-masing mebawa mangkuk dan patahan gading, belailainya menghisap mangkuk uyang melambangkan ia sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan.


Bima : adalah penggambaran putra kedua dari lima bersaudara pandu.  Dalam dunia pewayangan bima adalah satu-satunya tokoh yang dapat memperoleh Tirta Pawitra Adi.
Seperti yang telah saya tulis terdahulu bahwa, penggalian situs Trowulan yang merupakan satu-satunya situs perkotaan masa klasik Indonesia, tidak hanya hanya menemukan situs perumahan saja tetapi juga menemukan situs-situs yang lain seperti situs perekonomian, situs Religi dan kesusanteraan.
Adapun situs yang terletak dekat dengan Pusat Informasi Majapahit adalah Situs Perumahan dan Situs Segaran.

Berdasarkan informasi seperti relief candi dan miniatur rumah terakota, maka dapat diperkirakan bahwa bangunan rumah tinggal pada masa Majapahit awalnya kontruksi bangunan tersebut terbuat dari kayu ang berdiri diatas batur. Dan didalam rumah tersebut dahulunya belum terdapat pembatas ruangan, penutup atapnya genteng, namun pada masa berakhirnya kerjaan Majapahit, tempat tinggal sudah memiliki pembatas.
Selain Situs perumahan yang ditemukan di dekat Situs Trowulan, ditemukan juga situs KOLAM SEGARAN, kolam ini merupakan salah satu dari 32 waduk / kolam kuno Mojopahit yang masih dapat dilihat sampai sekarang.
Bentuk Kolam adalah empat persegi panjang berukuran 375 m dan lebar 125 m, sedang dindingnya setinggi 3,16.

Kolam segaran ini letaknya persis di depan PIM, dan pada waktu ditemukan oleh Ir. Henry MP kolam ini masih berbentuk gundukan tanah rerumputan. Menurut cerita rakyat, kolam ini dulunya digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu para tamu dari luar negeri. Sementara peneliti yang lain mengatakan, bahwa fungsi kolam ini sebagai penambah kelembaban / kesejukan udara kota Majapahit.

Selain beberapa artefap artefak yang masih bisa disaksikan sebagai suatu peninggalan Kerajaan Majapahit masih terdapat beberapa peninggalan yang sampai saya sekarang belum sempat saya kunjungi antara lain ; Gapura bajangratu, Candi Tikus,  Situs Sentonorejo, makam Troloyo dan lain-lain peninggalan yang letaknya tidak jauh dari trowulan dan sekitarnya.
Saya berharap di jelajah yang akan datang saya dapat mengunjungi sebagian demi sebagian sehingga keseluruhan peninggalan Majapahit ini dapat saya saksikan semuanya.
Sungguh jelajah kali ini masih menyisakan keinginan yang harus terpenuhi dikelak kemudian hari, entah ketika saya sendiri atau dengan orang lain, ataupun ketika saya harus meluangkan waktu didalam disela-sela pekerjaan yang memang kesana kemari. Semoga.........!!!!



Lanjut Kang......

10 November 2009

Ketemu juga dengan The Gembell's

Pada bulan Februari tahun ini saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan beberapa personil band legendaris tahun 70 an, THE GEMBELL'S.
Pertemuan beberapa bulan yang lalu itu hanya sebuah pertemuan yang tidak disengaja, dan saat itu kami tidak bisa menyaksikan mereka menjajal kepiawaian mereka melantunkan lagu-lagu yang legendaris saat itu, selain karena mereka bertemu hanya ketemu dengan tidak sengaja, juga karena personil yang datang tidaklah utuh semua, kami saat itu hanya bertemu dengan Minto, Jaja dan Pardi Arpin jadi tidaklah semuanya saat itu bisa saya saksikan mereka berkumpul secara utuh.


foto bersam dengan cak Victor Nasution

Kesukaan saya pada The Gembell's seperti apa yang telah saya tulis di edisi yang lalu, bahwa hanya karena salah prsonilnya yang secara kebetulan adalah sahabat saya dan saya sering bertemu, maka dengan tidak sengaja dari obrolan dan ajakan Abah, membuat saya dengan secara tidak langsung mengetahui keberadaan band legendaris kota pahlawan ini, meskipun secara mengangan-angan bahwa group band ini sudah saya ketehui, jauh sebelum saya mengenal abah ini dan masih berada di kampung, di Magelang.

Seperti hari Kamis kemarin, ketika dengan tidak sengaja teman saya mengirim SMS lewat no telpon saya yang mengabarkan bahwa the Gembell's yang rencananya akan manggung bersama-sama Dewi Yul Tanggal 7 November 2009 di Balai Pemuda, malam ini akan manggung di rumah makan tempat kami pernah berkumpul dengan anggota the Gembel's yang lain, yaiotu di Makan Time, Resto Cafe di Jalan Dinoyo [ depan Univ. Petra ].
Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, meskipun saya harus datang sendiri ke tempat itu, malam itu aku berharap bisa menyaksikan penampilan mereka secara langsung dan pertamanya bagi saya, sejak saya mengenal group band ini.

Sampai di tempat itu,saya menyaksikan terlebih dahulu home band,setelah satu lagu selesai akhirnya waktunya the Gembell's beraksi.
Saya malam itu ingin menyaksikan penampilan secara langsung membawakan lagu-lagu koleksi mereka, tatpi khususnya lagu BALADA KALIMAS yang benar-benar saya tunggu penampilannya.
Sebenarnya saya pribadi agak kecewa dengan personil Band yang bisa datang, karena saya sebelumnya telah mendapat informasi bahwa ada beberapa anggotan band yang tidak bisa datang, yaitu Minto, Jojok dan Rudi Anam,Anas Zaman entah mengapa mereka tidak bisa datang, tapi untuk abah Minto saya mendapat kabardari telepon yang saya hubungi, bahwa beliau tidak bisa hadir karena sedang ada acara yang tidak bisa ditinggalkan di Bali, dan abah berpesan agar saya bisa menikmati penampilan The Gembell's walau tidak ada saya.
Malam itu personil Gembell's yang manggung adalah : Victor Nasution, Pardi Ani, Bram dan seorang lagi yang memegang Bass, yang aku lupa namanya, dan ditambah dua personil lain yaitu penabuh drum dan pemegang organ.
Suasana resto malam itu sangat ramai, seperti biasanya ( kata temen saya ) kalau tiap hari Rabu dan Kamis, resto ini selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung yang rata-rata usianya diatas 40 tahun. karena pada hari itu resto melalyui home band nya akan menyajikan lagu-lagu oldiest.
Entah manggungnya The Gembell's itu diundang atau tidak, yang jelas malam itu adalah malam pertama sejak beberap tahun belakang sejak group band ini tidak pernah manggung lagi, seperti yang dikatakan oleh teman saya.
Menyaksikan penampilan mereka serasa kembali saya ingat akan jaman-jaman group band yang sangat legendaris yaitu Koes Plus, sebab hampir lagu-lagu yang dinyanyikan membawa suasana tempoe doeloe, yaitu ketika musik aliran beatles berkembang dan sangat populer pada tahun 70 an.
Pun seperti lagu-lagunya The Gembell's seperti Balada Kalimas 70, lagu yang sangat populer dan menjadin trade mark nya group band yang dikomandani oleh Victor Nasution ini, juga lagu-lagu lain yang mereka bawakan, hampir seluruhnya adalah memiliki alur yang sesuai dengan jaman waktu itu.
Malam itu mereka menampilkan 9 lagu, baik lagu sendiri maupun lagu milik orang lain, dan membuat malam itu benar-benar penonton yang hadir hanyut dalam kenangan lama, kenangan ketika group band ini memiliki nama yang tak asing lagi bagi para pengunjung saat itu.
dan inilah beberapa nomor lagu yang dibawakan :
1. Suropati Wiraguna
2. Balada Kalimas
3. Hey Dokter
4. No One..... ( milik : tele santana )
5. Bunga Lalang
6. Peristiwa Kali Lima
7. Singosari
8. Gila

Menikmati lagu-lagu milik mereka sendiri sungguh sudah menjadi obat bagi saya untuk sebuah klangenan, yang selama ini hanya mendengar saja tentang keberadaan dan kepopuleran sebuah group yang lahir di kota pahlawan itu, tapi malam itu saya bisa mendengarkan secara langsung, bahkan bisa kenal dekat dengan seorang pentolannya, Cak Victor Nasution.
Selamat untuk The Gembell's, semoga di kesempatan lain saya bisa bertemu secara uth personil-personilnya. dan Bravo Gembell's tetap jaya dan akan selalu berkarya!!!

Lanjut Kang......

3 November 2009

Benteng VREDEBURG, Kokohnya Sebuah Sejarah

Tidak dengan sengaja siang itu saya harus memasuki sebuah bangunan tua, yang konon adalah merupakan salah satu bangunan kuno peninggalan jaman kolonial.
Sungguh saya juga tidak menyangka kalau jelajah kota ke Jogyakarta ini akan bertemu dengan bangunan kuno kegemaran saya,benteng VREDEBUR, yang letaknya di ujung selatan Jl. Malioboro, karena siang itu sebenarnya saya dengan Non juga dengan Kakak sedang menikmati jajan yang disajikan dalam acara Festival Masakan Tradisional X yang diadakan tidak jauh dari tempat ini, dan inilah jelajah kota yang sempat terekam dari sebuah peninggalan sejarah.


Memasuki bangunan yang cukup megah dan terkesan kuat ini tidaklah sulit, karena hanya dengan membeli karcis seharga Rp. 750,- kita bisa masuk benteng dan menikmati seluruh isi dari bangunan bersejarah yang bersebelahan dengan monumen Serangan umum 11 Maret ini.
Saya memasuki dari pintu gerbang sebelah Barat, kalau dilihat dari uraian yang mencantumkan adanya pintu gerbang sebelah Barat apakah mungkin juga ada pintu gerbang sebelah Timur ? saya sendiri tidak mengetahuinya secara pasti, tetapi setidaknya ketika saya berusaha memasuki dan berjalan ke arah timur, saya mendapatkan bangunan yang berlantai dua dan kelihatan ada pintunya, apakah itu pintu sebelah Timur atau bukan, saya belum bisa memastikan karena keterbatasan waktu.



Pintu Gerbang Utama Barat


Memasuki benteng ini secara umum tidaklah berkesan angker atau kumuh, seperti selama ini yang sering saya dapatkan jika bangunan kuno selalu menghadirkan nuansa kuno dan angker, tapi disini saya tidaklah demikian.
Menurut catatan yang sempat saya peroleh, bahwa pintu gerbang utama sebelah barat, yaitu yang persis menghadap Jalan Malioboro ini memiliki dua lantai, antara tahun 1765 sampai dengan tahun 1830 lantai sebelah atas digunakan sebagai kantor komando. Digunakannnya lantai sebelah atas sebagai kantor komando adalah sangat mungkin karena kalau kita menaiki lantai atas, kita akan dengan bagus dan dengan leluasa memandang area sebelah dalam benteng maupun memandang arah luar benteng.
Dan ruangan yang berada dilantai bawah, baik yang ada disisi kiri maupun kanan jalan masuk, dulunya berfungsi sebagai ruang jaga, dan diperkirakan ini tidak berubah fungsi sejak dahulu maupun sampai sekarang.
Setelah memasuki pintu gerbang utama, kita akan dihadapkan pada dua bangunan yang berada di sisi Utara dan sisi Selatan, yaitu yang dinamakan Gedung Pengapit Utara I dan Gedung Pengapit Selatan I.



Gedung Pengapit Utara I

Gedung Pengapit Utara I ini diperkirakan awalnya digunakan sebagai kantor administrasi komplek benteng, dan menurut penelitian dari bentuk asli dapat dipastikan bahwa gedung ini merupakan banguna yang relatif lebih tua dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang ada, hal ini bisa ditunjukkan dengan gaya bangunan ini yaitu, menggunakan gaya Eropa, dan ornamen-ornamen bergaya Yunani kuno masa Renaisance, dimana bangunan atas yang berbentuk lancip, dimana bentuk lancip ini digunakan sebagai upaya untuk mengurangi beban salju di musim salju, dimana ini merupakan ciri khas dari arsitektur gaya Eropa murni.


Gedung Pengapit Selatan I

Sedang gedung Pengapit Selatan I ini berada di sisi selatan didalam komplek bangunan ini, diperkirakan bangunan ini telah mengalami pergantian fungsi, semula diperkirakan bangunan ini digunakan sebagai kantor administrasi, namun ketika dalam benteng terdapat tahanan-tahanan yang berderajad tinggi ( tawanan kraton yang berpangkat tinggi ), maka bangunan ini dimanfaatkan sebagai sel tahanan khusus, dan juga ada kemungkinan bangunan ini digunakan sebagai ruang tamu VIP, ini bisa dibuktikan dengan bentuk dan penampilan ruangannya.

Sisi lain setelah Gedung Pengapit Utara dan Gedung pengapit Selatan adalah Perumahan Perwira Utara I dan Perumahan Perwira Selatan I.

Perumahan Perwira Utara I terletak di sebelah utara dalam komplek bangunan ini, dan berdasarkan analisa bentuk dari bangunan ini, diperkirakan bangunan ini dahulunya dipergunakan sebagai tempat tinggal perwira.
Namun diperkirakan bangunan ini juga mengalami perubahan fungsi, yaitu yang tadinya sebagai kantor administrasi, hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan bentuk teras menjadi ruang depan, namun ternyata bangunan ini juga beralih fungsi ketika digunakan oleh TNI, dimana bangunan ini juga digunakan sebagai tempat tinggal prajurit dan keluarganya, mengingat dahulu kebutuhan tempat tinggal TNI cukup besar.
Perumahan Perwira Selatan I terletak berhadapan dengan Perumahan Perwira Utara I yang berjartak beberapa meter.
Bangunan ini terdiri dari :
1. Teras Depan
2. Bangunan Utama
3.Teras Belakang
Seperti Prumahan Perwira Utara I. diperkirakan bangunan ini juga berfungsi sebagai perumahan perwira.
Namun karena adanya perubahan teras depan menjadi menjadi ruang depan maka, diperkirakan perumahan ini juga digunakan untuk perumahan prajurit dan perwira yang telah berkeluarga, jadi tidak hanya untuk perumahan perwira saja dan ini diperkirakan terjadi setelah benteng ini digunakan oleh TNI.
Didalam benteng ini sebenarnya mungkin masih banyak bangunan-bangunan yang lain yang ada di dalam lokasi benteng ini, namun saya jelajah kota saya ini tidak bisa tuntas menjelajahi sebab karena terbatasnya waktu, karena saya segera menlanjutkan perjalanan untuk pulang ke Magelang, saya berharap dikesempatan yang lain saya akan mengunjungi lebih komplit dan bisa lebih seksama menikmati bangunan bersejarah ini.


Lanjut Kang......

26 Oktober 2009

Kuno dalam citra kemolekan

Sebuah bangunan atau peninggalan cagar budaya, apalagi bengunan dan peninggalan tersebut masih difungsikan sebagaimana layaknya bangunan-bangunan yang tumbuh pada jaman sekarang adalah, sebuah tindakan yang patut menjadi kebanggaan dan tauladan masyarakat.Seharusnyalah bangunan-bangunan tua ini dilestarikan dan salah satunya bisa dengan difungsikan kembali bangunan tersebut, dengan demikian dipakainya bangunan cagar budaya akan dengan sendirinya juga akan merawat bangunan yang difungsikan tersebut.




Seperti bangunan peninggalan jaman kolonial, Belanda yang aku ambil gambarnya diatas, Bangunan ini jelas peninggalan sejarah yang patut dilestarikan, dan contoh seperti inilah yang mungkin bisa kita jadikan acuan bagi pemerintah dalam rangka menjaga dan melestarikan peninggalan-peninggalan jaman dahulu, sebab dalam pikiran saya apabila, pemerintah mengharuskan bangunan-bangunan yang layak di fungsikan untuk kemudian menjadikannya sebuah bangunan yang memiliki fungsinya dan secara otomatis akan merawat keberadaan banguna bersejarah itu.
Bangunan diatas salah satu dari beberapa bangunan kuno yang masih dapat difungsikan keberadaannya.Bangunan tersebut kini telah difungsikan sebagai kantor sebuah bank swasta yang ada di Surabaya.
Melihat keadaan sekarang dimana bangunan ini selain menyimpan sejarah tersendiri dan merupakan bangunan cagar budaya tampak terawat dan mesih menyisakan sebuah keelokan sebuah bangunan kuno maka dengan sendirinya akan memiliki rasa kebanggaan.
Sungguh secara pribadi, saya ingin bangunan cagar budaya yang masih tersisa dan masih bisa difungsikan, dapatnya di rawat seperti yang saya sebutkan diatas.
Apakah saudara-saudara juga bangga pada bangunan cagar budaya yang telah difungsikan kembali dan menambah cantiknya sebuah kota pahlawan ?

Lanjut Kang......

23 Oktober 2009

Menyusuri Surabaya Lama di Sisi Lain.

Siang di saat Surabaya terasa panas menyengat, saat itu pulalah saya dengan bulat hati ingin menyesuri Surabaya lama di sudut-sudut yang lain.
Saya ketika itu masih ingat, ketika jelajah kota lama beberapa bulan yang lalu, kitra mendapat informasi bahwa untuk bebrapa bangunan cagar budaya yang ada selain di daerah tengah juga, terdapat di daerah sebelah timur jembatan merah, seperti Jl. Kembang Jepun, dan lain-lain.
Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, meskipun panas menyengat saya mencoba melihat beberapa peninggalan bangunan yang belum sempat saya abadikan dalam foto saya, dan tentu pengambilan obyek ini diambil secara acak dan inilah hasilnya :


Jelajah siang ini aku awali dengan menuju ke daerah yang menurut hemat saya, kawasan ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan kuno yang sebagian masih difungsikan keberadaanya dan sebagian lagi sudah tidak difungsikan dan dibiarkan terpuruk begitu saja, bahkan terkesan kumuh, padahal gedung dan bangunan inilah dulunya merupakan bangunan yang berfungsi sebagai kantor atau untuk keperluan yang lain yang kini merupakan saksi sejarah yang perlu sekali di lestarikan.

Sejak menginjakkan kaki di daerah ini Jl. Karet kami sudah mersakan nuansa roda perekonomian, sebab ternyata di daerah yang kelihatannya tidak begitu lebar namun cukup sibuk dengan bisnis yang ada disana, hal inilah tidak mengherankan karema memang di daerah sinilah dahulu pada jaman Hidia belanda, daerah ini dijadikan pusat perekonomian yang kedua, setelah daerah perekonomian yang pertama, yaitu di daerah sebelah barat Jembatan Merah.
Di ujung jalan inilah saya langsung disuguhi bangunan yang menurut saya adalah bangunan kuno dan sampai saat ini masih difungsikan, yaitu gedung yang bentuk mukanya dihiasi dengan bentuk kubah yang berada di atap.



Bangunan kuno ini selain selain memiliki kubah lingkaran yang cukup besarnya, bangunan ini seperti bangunan-bangunan yang lain yang ber arsitek Kolonial Tropis, selalu menampakkan pilar-pilar yang berdiri kokoh di depan.

Selesai menikmati bangunan yang pertama , jelajah saya lanjutkan menyusuri arah selatan, tidak jauh dari yang pertama, saya menemukan kembali cagar budaya yang lain dan masih juga difungsikan keberadaanya, yaitu PT. Bentoel / Perkantoran yang berada di Jl. Karet no. 46.


Gedung PT. Bentoel Perkantoran Jl. Karet 46, Surabaya

Karena masih difungsikan maka bangunan ini masih terlihat terawat dan bersih, dan sangat kontras dengan bangunan yang beredekatan dengan bangunan ini.


Bangunan lain yang nampaknya juga sudah tua

Tidak jauh dari kedua bangunan diatas, disebelahnyapun kami menemukan bangunan Cagar Budaya yang lain yang tak kalah menariknya, yaitu bangunan yang digunakan sebagai kantor Koperasi Bank Pasar Niaga Rakyat dan juga digunakan sebagai tempat tinggal (rumah tangga ) yang terletak di Jl. Karet No. 88.
Sekelebat bangunan ini sebenarnya masih berdiri kokoh, dan kuat tapi karena di depannya di sebagian atapnya ditutupi oleh seng, maka kami tidak bisa melihat secara keseluruhan bentuk depan bangunan ini.


Kantor Koperasi Bank Pasar Niaga Rakyat

Setelah kami sampai pada pojok jalan Karet, saya coba untuk menyusuri jalan Kembang Jepun, Seperti sudah diketahui, jalan Kembang Jepun inipun dulunya juga merupakan kawasan perekonomian yang ramai di sisi sebelah timur, dan di kawasan ini saya menemukan saatu cagar buudaya yang lain yaitu gedung yang dahulu bernama ASAHI (kantor) tapi sekarang gedung ini sudah berfungsi sebagai Toko. Aneka, di Jl. Kembang Jepun 151, Surabaya.


Toko Aneka, di Jl. Kembang Jepun 151, Surabaya.

Dan karena gedung ini berada di pojok dan berada dikawasan yang ramai, apalagi pada jam-jam sibuk, maka untuk mendapatkan foto ini saya harus mengambilnya dari seberang jalan.
Bangunan ini kalau dilihat dari bentuknya juga, merupakan bangunan berciri Kolonial Tropis seperti pada gedung-gedung yang ada dan tersebar di daerah sekitar Kembang Jepun.
Sebenarnya di sepanjang jalan Kembang Jepun ini masih terdapat banyak bangunan-bangunan bersejarah yang lain, tapi karemna keaadaan yang tidak memungkinkan maka saya hanya sempat mengambil salah satu dari bangunan yang ada.
Selesai menyusuri Jalan Kembang Jepun, jelajah kami arah kan ke timur dan kemudian berbelok ke arah selatan, dan melewati jalan Sunan Ampel, disinilah juga kami bisa menyaksikan beberapa bangunan yang cukup lama, dan tentunya merupakan pemandangan yang menarik hati jika kita bisa melewati daerah ini, apalagi hari itu hari Kamis, tentu banyak para peziarah yang datang untuk mengunjungi Makam Sunan Ampel yang berada di kawasan ini.
Selesai menyusuri kawasan ini, jelajah saya lanjutkan ke arah selatan lagi, yaitu ke arah Jembatan Petekan, Jembatan ini seperti yang mungkin sudah saudara dapatkan informasinya, bahwa jembatan ini dahulu kala merupakan jembatan yang sangat memiliki arti bagi roda perekonomian Surabaya lama untuk daerah pelabuhan, Jembatan ini dulunya ketika berfungsi bisa naik dan turun secara mekanikal jika ada kapal melintasi Kalimas dibawahnya.
Namun melihat jembatan Petekan sat ini sungguh saya merasa prihatin, sebab seharusnya Benda budaya dirawat dengan demikian tentu akan berfungsinya lagi dan tentu dengan demikian akan melestarikan sebuah peninggalan yang fenomenal.


Jembatan Petekan-Kalimas

Selesai menikmati jembatan Petekan yang kini hanya tinggal menunggu waktu, saya langsung menuju kearah selatan, menyusuri pinggiran sungai Kalimas, maka sampailah saya pada di keramaian Jembatan Merah Plaza, dan disinilah saya mengabadikan kembali sebuah bangunan cagara budaya kembali yang letaknya persis berada di sebelah belakang gedung markas kompeni, yaitu gedung yang sekarang digunakan sebagai kantor sebuah Bank Swasta.
Menurut ceritanya bangunan ini memiliki kesamaan dengan bangunan kantor Bank di kota yang lain.


Kantor Bank

Jelajah saya yang terakhir setelah menikmati kantor Bank tadi, akan saya akhiri dengan melewati jalan Rajawali kemudian berbelok ke selatan dan mengikuti Jl. Veteran dan sebagai penutup perjalan ini aku berusaha mengambil beberapa foto cagar budaya yang lain yang pernah saya sampaikan dalam perjalan mennyusuri Surabaya Lama terdahulu.


Gedung De Algemene (Hulwit Berlage)
satu-satunya bangunan karya Barlege ( Arsitek terkenal di Eropa) yang ada di Surabaya




Gedung Cagar Budaya PT. Kerta Niaga, Ltd

Tuntas sudah jelajah siang ini dalam rangka memenuhi klangenan saya pada bangunan-bangunan tua sebagai pendukung kawasan kota lama Surabaya.
Saya mengakui bahwa jelajah siang ini masih jauh dari keinginan para pembaca yang ingin mengetahui cagar budaya yang masih tersisa karena keterbatasan waktu dan informasi yang kami punya, namun setidaknya sebagai memuaskan keingintahuan saya rasa sudah cukup, tapi saya yakin dikemudian hari saya akan menjelajah kota pahlawan dengan lebih baik dan penuh kenangan, semoga......

Lanjut Kang......