3 Juni 2010

Menyelinap, menemukan sebagian kerinduan pada tanah leluhurku

Tak terasa sudah hampir setengah tahun lebih sejak saya bersama keluarga Desember 2009 yang lalu tak pernah lagi kembali ke Magelang, maka ketika si kecil [anak saya] mendapat kesempatan untuk berlibur dengan sekolahnya ke Jogjakarta maka, kesempatan ini juga akan kugunakan untuk  mengawal si kecil sekalian pulang ke kampung halamanku.
Saya terpaksa harus berangkat dari Surabaya pada pagi hari, bagi kami perjalanan pada pagi hari tidak biasa, sering kami berangkat pada malam hari untuk ke Magelang, selain tidak ramai di jalan, sesampainya di tujuan hari masih pagi, sehingga perjalanan akan efisien dam menghemat waktu.
Hari itu saya kira-kira jam 08.00 WIB, jadi kami terlambat untuk berangkat selama kurang lebih hampir 2 jam, dari jadwal yang telah ditentukan, karena bus yang akan kita tumpangi beritanya terjadi kecelakaan kecil menuju ke tempat kami berkumpul, saya sudah menduga bahwa keterlambatan ini pasti acara-acara yang telah disusun akan mengalami perubahan dan perkiraan yang paling buruk adalah akan kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahanan candi prambanan yang ada di wilayah Prambanan.
Sedikit catatatn, karena hari itu adalah hari Jum'at maka dalam perjalanan saya mencoba untuk mencari masjid untk sholat jum'at dan saya menemulan masjid Nurul Huda di desa Sawo, Karangjati-Ngawi.

Seperti yang telah menjadi rencana awal perjalanan ini, bahwa perjalanan hari pertama ini akan tiba di Candi Prambanan pada jam 14.00 atau 15.00 WIB, namun karena keberangkatan yang molor tentu kesempatan pertama untuk menikmati kemegahan candi Prambanan terpaksa diutungkan pada sore itu, karena sampai di Prambanan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB atau kurang yang jelas kalau harus dipaksankan masuk ke wisata ini, waktunya sangat tidak dimungkinkan, saya saja yan sudah mendahuui datang di lokasi ini sudah jam 16.30. padahal ticket masuk menurut informasi yg saya terima dari petugasbya dijual terakhir jam 17.00 WIB, dan lokasi ditutup jam 17.30, ya karena keadaan itu rombongan terpaksa jalan terus dan langsung menuju ke tempat penginapan.
Tiba di penginapan hari sudah mulai malam, saya sudah tiba duluan ketimbang di hotel yang terletak tak jauh dari keraton jogjakarta itu, hotelnya tidak terlalu besar dan menurut tukang becak [ kebetulan orang Magelang] yang saya tanyai mengatakan kalau hotel ini baru, belum ada 2 tahun, jadi ya banyak orang yg beluam tahu, dan ini menjadi kan masalah kecil ketika saya harus tanya sana sini untuk mengetahui dimana lokasi hotel ini.
Dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya rombongan anak kami sudah datang, setelah mengemas dan menata tas bawaan adik dikamarnya saya kemudian meneruskan perjalanan lagi menuju ke Magelang, karena saya tak ingin sampai di Magelang larut malam.
Sampai di Magelang jam kira-kira sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. dan sudah ditunggu oleh bapak, ibu serta keponakan-keponakan di rumah Magelang, istirahat sebentar, mandi dan berbenah saya langsung mengajak semua untuk makan, karena sejak siang, saya, istri dan mbak perut belum terisi makan.
Malam itu saya ingin makan nasi goreng khas kota ini, saya langsung menuju ketempat yang tak jauh dari pusat kota dan sudah menjadi langganan saya beberapa tahun terkahir ini kalau saya pulang ke Magelang, yaitu di sebuah tempat makan yang ada di muka penjara [LP].



Seperti biasa, saya langsung pesan nasi goreng tapi ditambah potongan tulang serta mie godog, dan seperti yang aku bayangkan, cita rasa masakan Magelang ini sangat khas di mulut dan lidah saya, saya masih inget benar kalau cita rasa seperti ini hanya bisa dinikmati di Magelang dan daerah di sekitarnya, coba bayangkan, masak nasi goreng dengan angklo dan bara api dari areng, pasti tak kebayang aroma dan panasnya, jelas cita rasa yang dihasilkan tak akan mudah dilupakan, dan yang paling menjadi kek khusannya adalah masaknya adalah satu persatu, artinya walauapun pesan satu atau sepuluh atau berapa porsi saja, makan akan dimasak satu persatu, inilah yang membedakan cara masak Magelangan dengan cara masak yg lain.
Selesai kami makan malam, sayapun langsung pulang ke rumah dan sampai di rumah saya langsung mak blessssssssssssss..............dan ngorok lagi, Wzzzzz...Wzzzzz..........krk...krk....... !!!

Sabtu, 29 Mei 2010
Pagi sekali saya sudah bangun, karena saya sudah janji dengan Non untuk jalan-jalan pagi, dan saya melakukan jalan pagi ini di daerah sekitar tempat tinggal akmi, yang ada di daerah Karet, Giriloyo.
Saya berjalan menyusuri kampung-kampung, Karet, Jagoan dan dan kembali kerumah, menyusuri jalan-jalan disekitar tempat tinggal kami pada pagi hari sangatlah membikin hati ini terasa ayem dan tentu membangkitkan lagi memorabilia ketika saya masih hidup di kota yang bersih dan sejuk ini.
Sampai di rmah sayapun sebentar istirahat dan setelah beberapa saat mandi pagi saya mengajak Non untuk mencari sarapan pagi, sengaja memang ibu, bapak dan keponakan tidak ikut, karena keponakan-keponakan hari itu masih sekolah, ibu serta bapak yang setiap pagi menyiapkan keperluan mereka, pagi itu saya sekali lagi makan yang menjadi kegemaran kami setiap pagi kalau sedang pulang kampung yaitu, makan soto dan pilihan saya makan soto yang ada di Jl. Majapahit.


Menikmati soto khas Magelang di pagi hari dan dikota sendiri, sekarang akan mambawa suasana dan sensasi rasa yang lain, barangkali apa yang saya katakan ini tidak berlebihan, sebab di perantauan makan soto dengan rasa khas kota kelahiran selain sulit didapat tentu rasanya akan berbeda jika kita menikmati soto yang sama, kalau anda tak percaya, coba tanyakan apada orang-orang Magelang yang lahir di kota kecil ini tapi sekarang berada di perantauan, tentu akan sependapat dengan saya.
Selesai menikmati menu sarapan soto, saya berdua langsung ingun berputar-putar lagi menikmati kota ini, meski sering juga kita pulang, tapi ketika kita berkesempatan mudik maka inginnya kita selalu ingin keliling kota magelang, walau hanya sekedar menikmati suasana kota, syukur-syukur bisa ketemu sahabat lama dan bernostalgia segala hal yang pernah tersisa dikota ini.
Jajan soto di tempat ini tak pakai lama, biasa karea kita hanya makan berdua sama Non, jadi saya buru-buru pulang kerumah untuk beristirahat sebentar, tapi ada sesuatu yang menarik pandangan saya ketika saya menuju pulang, saya sempat menyaksikan seni instalasi dari sebuah rumah seni yang ada di dekat kampung saya yang lama, sesuatu yang membuat saya harus turun dari kendaraan untuk lebih dekat menyaksikan hasil karya seni ini


Dan sampai di rumah saya langsung istirahat karena siangnya acaraya akan padat di jogjakarta menemani si kecil  menungunjungi beberapa obyek wisata.
Berangkat ke Jogja, kira-kira hari sudah agak siang, karena saya harus menunggu keponakan-keponakan pulang dari sekolah, saya berangkat sekalian dengan Bapak dan ibu, sebab sengaja saya mengajak orang tuaku karena saya ingin menemukan si kecil dengan mbah Uti dan mBah Kungnya, sebab perkiraan saya si kecil gak ada kesemoatan ketemu dengan mereka lagi, kalau tak sekalian saya temukan.
Sampai di Jogja sudah siang, dan si kecil sudah mengunjungi beberapa tempat, Kraton juga Taman Sari, dan siang itu saya ketemu dengan adik [ si kecil ] di Taman Pintar.
Meski sering ke Jogjakarta, tapi untuk singgah di Taman Pintar ya baru kali ini, memang keberadaan taman ini mungkin belum begitu lama, dilihat dari keberadaan fasilitas yang ada, yang masih relatif tampak baru, dan secara kebetulan saya mengetahu kalau lokasi ini dekat dengan gedung Taman Budaya Jogjakarta, sehingga dengan tanpa sengaja saya bisa menikmati lebih dekat dengan gedung yang satu ini, karena saat itu turun hujan yang cykup lebat maka, jadwal waktu disana agak molor karena menunggu hujan reda untuk kemudian si kecil melanjutkan perjalanan pulang ke hotel
Setelah berputar-putar di sekitar Taman Pintar dan juga juga menengok gedung Taman Budaya tanpa terasa hari sudah agak sore, dan karena kami ada keinginan menghadiri kopdar BALA TIDAR di Magelang rombongan kami segera pulang menuju Magelang lagi, dan perjalanan yang biasanya kami tempuh selama satu sampai satu setengah jam jadi molor sampai dua jam karena jalan yang hendak masuk ke Magelang [ biasa ] selalu macet karena jalannya memang sempit, apalagi saat itu jalan antara Blondo sampai mau masuk ke Magelang[ Armada ] sedang dilaksanakan perbaikan pelebaran jalan, otomatis ini juga menjadi salah satu penyebab kemacetan di ruas jalan ini, dan i ilah gsalah satu sebab sehingga saya tiba di Magelang sudah selepas Mahgrib, padahal sebelumnya saya di jogja sudah mengontak temen di Alon-alon bahwa saya diperkirakan tiba disana jam 17 WIB, tapi ya......karena ada hambatan tadi ditambah memang di jalan juga kendaraan banyak maka jalan kami jadi terlambat sampai di Alon-alon.
Sampai di Alon-alon hari sudah sangat gelap, sehingga mata yang rabun ini harus mencari-cari dimana sahabat blogger ini berada, tapi karena kita sudah dulu saling telpon-telpon an maka lokasi ringin tengah [ lokasi favorit gethukan ] segera aku samperin dan, disana sudah menunggu 3 sahabat bala tidar, tiga anak muda yang umurnya jauh dibawah saya dan malah bisa dikatakan seumuran dengan anak saya, yah langsung salam-salaman dan karena kita belum sholat langsung kita menuju ke masjid besar untuk melaksankan sholat dulu.
Selang tidak begitu lama saya selesai dan kami mengajak mereka untuk mencari tempat yang enak dan agak terang, dan saya temukan tempat yang cukup baik yaitu di tikar panjang milik bapak penjual bakso itu.
Dan setelah bebrapa saat kita ngomong-ngomong saya baru tahu kalau sahabat bala tidar itu namanya MAS YUDHA, MAS KUKUH DAN MAS FAISOL [ kata anak saya ], kita malam itu ngomong gayeng, sedikit berkenalan dengan saya,istri ,anak serta keponakan-keponakan saya, dan dari perbincangan yang gayeng itu saya sempat kecewa, karena sebetulnya tadi banyak bala tidar yang hadir tapi karena saya datangnya sangat terlambat maka sebagian bala tidar yang soree harinya sudah datang, banyak yang sudah pulang, untuk ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Yudha, Mas Kukuh dan Mas Faisol yang sudah dengan sangat sabar menunggu saya hingga Maghrib, karena saya mendapat kemacetan saya dari Jogja dan saya mohon maaf kepada bala tidar yang lain yang sudah menunggu tapi tak sempat ketemu saya, padahal saya sudah ingin sekali ketemu mereka, mungkin di lain kali dan kesempatan yang baik kita bisa ketemu disana.
Beberapa saat kita berngobrol ria, ngalor ngidul yang gayeng dengan bala tidar membuat saya lupa bahwa saya harus menyudahi pertemuan ini karena, saya akan kembali ke Jogja untuk menemani si kecil yang ingin jalan-jalan malam di Malioboro, sekali lagi terima kasih untuk bala tidar yang malam itu berkenan menemani saya dan keluarga saya, sekali lahi terima kasih dan sampaikan salam saya untuk sahabat bala tidar yang lain.
Selesai saya pulang sebentar ke Magelang menemui sahabat bala tidar, saya langsung menuju kembali ke Jogja, dan karena dalam perjalanan lancar maka sampai di Jogja belum begitu malam, dan langsung saya menuju ke hotel adik kemudian mengajaknya keluar jalan-jalan ke Malioboro seperti yang adik minta dalam telponnya.
Seperti biasa karena di Jalan Malioboro hari sudah malam maka, banyak penjual souvenir yang sudah tutup jadi malam itu kami tak dapat membeli banyak oleh-oleh untuk sekedar cindera mata, dan seperti permintaan si adik, kita malam itu lansung mencari tempat makan.
Makan malam di Malioboro dengan Non, anak-anak serta keponakan-keponakan adalah saat yang sangat menyenangkan, bagi saya bukan makanan yang kita santap itu yang bikin suasana menyenangkan, tapi kebersamaan dengan seluruh keluaga dan keponakan itulah yang menjadi beda dengan makan yang lain, seperti kita sore tadi ketika ketika makan bersama dengan Bala Tidarm bukan makanannya tapi kebersamaan itu yang membuat pertemuan itu berkesan.
Selesai beberpa lama kita makan dan menikmati malam di Jalan Malioboro membuat badan ini terasa capai dan tak terasa malam sudah mencapai laritnya, maka setelah kita puas maka saya mengantar adik untuk pulang ke tempat mereka menginap dan saya meneruskan perjalan ke Magelang untuk pulang.
Pagi harinya sebelum saya berpamitan untuk pulang ke Surabaya saya menyempatkan untuk sarapan pagi di tempat yang selalu saya kunjungi bila kita di Magelang dan untuk sarapan pagi yaitu di warung soto MBAH MUL, yang berada di dekat lokasi Taman Kayai Langgeng.
Seperti biasa di warung soto in, kembali lidah saya dimanjakan dengan soto khas Magelangan yang selalu dan selalu menjadi kerinduan untuk selalu mencicipi soto yang segar dan gurih ini, makan soto dengan menggigit satau usus, ditambah gigitan tempe goreng, wah rasanya masih teringat terus.Selesai sarapan pagi saya terus pulang dan tidak lama kemudian sesampainya di rumah saya pamit pada bapak juga ibu untuk melanjutkan perjalanan dan selanjutnya pulang ke Surabaya.
Setengah siang setelah saya pamit dengan orang tuaku, saya dan rombongan melaju menuju ke candi Borobudur, karena siang itu rombongan anak saya sudah berada disana, dan sesampainya disana saya langsung ketemu dengan anak saya.
maksudnya sih gak ikut masuk kedalam komplek candi, tapi berhubung saya ingin men foto-foto anak saya, saya terpaksa sendiri masuk dan menemani si kecil, sementara non dan mbak nunggu di pintu keluar saja.
Didalam sebelum saya tiba di pelataran candi saya sempat menyaksikan 2 acara yang berbeda, yang satu acara seni patung, karena memang saya melihat orang yang diumuri sebangsa tanah basah atau dalam bahasa jawanya lendut.
Patung atau Manusia ?
Sudut lain dari sebuah bentuk berkesenian......

Sewaktu kecil kesenian kuda lumping [ jathilan ] sudah terbiasa saya saksikan, tapi ketika lama tak menemukan ini, dan bisa menyaksikan kembali kesenian ini tentu membawa kesan tersendiri, cantik dan menarik hati.

ini dulu saya menyebutnya dengan BARONGAN, meski seharusnya lengkap seperti bentuk naga, tapi ini hanya kepala yang berbentuk raksasa [ butho].
Inilah sebagian rombongan dari sekolah anak saya, dari SDN Kaliasin III-Surabaya.


Selesai menikmati yang sebenarnya enggak nikmat menurut saya, saya mengikuti rombongan meneruskan perjalanan ke Candi Prambanan, karena jarak Borobudur dengan Candi Prambanan lumayan jauh, maka saya putuskan untuk lebih dulu mendahului rombongan anak saya sebab saya ingin sampai di Prambanan lebih dulu dan saya dapat menikmati istirahata beberapa saat sebelum akhirnya nanti kita akan sama-sama pulang dari Prambanan.
Sampai di prambanan anak-anak sudah agak sore jadi pas betul udaranya tak begitu panas, apalagi sudah terasa mendung disana. sehingga anak-anak dan romobongan tidak terasa kepanasan selama menikmati keindahan Candi Hindu tertinggi di tanah Jawa ini.
Mengelilingi sebagian dari candi Prambanan tidaklah memakan waktu dan tenaga, sebab selain area candi yang tidak besar dibanding dengan Borobudur dan dalam cuaca yang mendung, sungguh bisa menikamti candi dengan tidak merasakan kepanasan.
Sungguh perjalanan mengikuti tour anak ini selain anak yang mendapatkan banyak pengalamam selama tour ini, saya, non dan mbak Ella juga mendapat hiburan yang menyenangkan, selain melihat kembali tempat-tempat wisata yang pernah saya kunjungi, juga beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi, tentu dengan suasana yang hangat dan menyenangkan.
Seperti tulisan yang ada dalam t-shirt saya : SANG PEMIMPI, inilah perjalanan seorang bapak dengan keluarga yang memimpikan suasana keakraban dan menyenangkan, seperti sebuah MIMPI yang indah setalah kita bangun dari tidur, semoga........!!!!!!

Lanjut Kang......

23 Mei 2010

Sparkling Surabaya Heritage, Photography Competition.


Masih dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, kembali disajikan sebuah acara yang dikemas dalam TO SURABAYA WITH LOVE : Sparkling Surabaya Heritage yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Mei 2010, acara ini disponsori oleh sebuah toko buku dan beberapa perusahaan da radio yang ada di kota Surabaya.
Satu hari sebelum dlaksankan acara ini saya telah mendaftarkan dahulu, sebab karena menurut saya ini adalah acara yang sangat cocok dan sesuai dengan kegemaran saya yaitu, yang berhububgan dengan heritage makanya saya tak ingin ketinggalan untuk ikut serta acaranya meski, awalnya saya sempat ragu karena acara yang berhubungan dengan competition photographi inilah yang pertama saya ikut, tapi dasar karena sudah kadung cocok dengan lebel yang ada dalam acara ini maka aku beranikan untuk mengikutinya.
Sabtu pagi jam 09.00 WIB kurang saya bersama teman dan anaknya sudah berada di tempat start kegiatan ini.Saya lihat pesertanya sudah lumayan banyak dan ketika saya datang, banyak peserta yang telah menunggu untuk diberangkatkan. Setelah saya registrasi saya langsung diberi kaos seragam dan bebrapa perlengkapan serta souvenir dari para sponsor.
Seperti yang saya katakan bahwa pesertamya ternyata benar cukup banyak dan harus dibagi dalam 4 bus, yang rata-rata sisnya 55-60 orang / bus. Karena peminatnya yang cukup banayak, panitia terpaksa harus mengganti salah satu bus nya dengan bus yang lebih besar karena ternya masih banyak peserta yang belum dapat tempat duduknya.
Setelah beberapa lama kita nunggu dapat pengganti bus, rombongan siang tu langsung ke tempat tujuan yang pertama : MONUMEN TUGU PAHLAWAN.






Patung Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, dilingkungan monumen Tugu Pahlawan.





Mode bergaya di pilar Patung Ir. Soekarno










Seperti dalam peraturan kompetisi kali ini bahwa, peserta wajib mengambl obyek foto heritage dan model sebanyak mugkin, kemudian diserahkan kepada panitia untuk dinilai dengan ketentuan bahwa para peserta mengumpulkan max. 4 foto yang terdiri dari foto model dan foto heritage.
Setelah selesai di lokasi yang pertama maka rombongan yang terdiri dari 2 bus yang merupakan kelompok saya, perjalan dilanjutkan ke lokasi yang kedua yaitu : HOTEL MAJAPAHIT, Jl. Tunjungan.
Didalam lokasi Hotel Mojopahit ini rombongan lansung disuruh masuk, karena hotel ini hanya memberikan waktu yang tidak lama, jadi peserta diminta untuk menggunakan waktu secara maximal, dan inilah waktu yang aku tunggu-tunggu, karena tidak sembarang orng dan waktu hotek ini bisa bebas dimasuki apalagi untuk diambil foto-fotonya kecuali tamu hotel maka, kesempatan ini saya gunakan dengan sebaik-baiknya dan saya mengambil beberapa lokasi yang ada di dalam hotel ini sebanyak-banyaknya, dan untuk ini foto-foto yg saya ambil akan saya tampilkan dalam kesempatan yang lain.
Selesai ambil foto di lokasi Hotel Majapahit, kembali rombongan dibawa ke lokasi selanjutnya, di lokasi yang ketiga, GEDUNG NEGARA GRAHADI, Jl. Gubernur Suryo.
Lokasi Gedung Negara Grahadi ini bagi saya pribadi sangatlah tidaklah asing sebab, hampir setiap harinya saya melewati depan lokasi ini karena, kebetulan si kecil bersekolah tepat di depan gedung Grahadi.
Di lokasi ini seperti dilokasi yang lainnya, saya langsung mengambil beberapa sudut gedung dan model yang berpanas-panasan di halaman gedung ini.
Selesai kami meninggalkan Gedung Negara Grahadi, kemudian rombongan menuju ke tempat yang tak jauh dari gedung ini, dan ini adalah ujuan kita yang ke empat yaitu , komplek MASJID MOHAMMAD CHENG HO.
Sebuah masjid yang didirikan oleh saudara-saudara kita yang ber etnis Tionghoa tetapi sduah memeluk agama Islam, dan disnilah komunitas ini biasanya melaksanakan kegiatan beragamanya.
Seperti kita ketahui bahwa masjid ini dibangun dengan bergaya mandarin, baik secara fisik maupun cat-cat yang digunakan dipastikan bergaya bangunan Cina.
Selesai di lokasi yang ke empat, perjalanan rombongan berjalan ke arah timur dan menuju ke titik point yang terakhir yaitu ke enam, JEMBATAN SURAMADU.

Sebagai empat yang masih tergolong baru dan merupakan lokasi yang masih dibilang favorit oleh masyarakat Surabaya dan Masyarakat luas, mengambil foto disini sangatlah menarik bagi saya, yang lagi belajar ber foto ria, saya jepret sana, jepret sini, pokonya sangat menarik selain lokasi yang lain yaitu Hotel Mojopahit.
Dan tanpa terasa saking asyiknya, panitia memberi komando untuk segera naik bus dan kembali ke Tunjungan Plaza untuk kemudian para peserta kompetisi inimenyerahkan beberapa file fotonya dan, venar karena perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk di setiap lokasinya [ kira-kira 30 menit ] maka tanpa terasa ketika kami tiba di lokasi finish acara ini, hari sudah menunjukkan sore hari.
Sungguh perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa terasa saya telah menghabiskan waktu hampur 7 jam lebih bersama sahabat-sahabat yang lain familiar dan mengasyikkan, tentu hal ini membuat kami ingin mengulangi kompetisi kesemptan yang lain,karena dari hal-hal seperti inilah saya dapat belajar banyak tentang fotograpfi semoga !!!!!!

Lanjut Kang......

19 Mei 2010

Parade Budaya 2010

Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak menulis disini, entah mengapa kok bisa lama sekali saya tak punya gairah untuk menulis, dan kemudian dijadikan postingan, saya sendiri heran kenapa, padahal menurut saya ya ....biasa-biasa saja, dan celakanya karena kemalasan ini sebetulnya ada beberapa moment yang seharusnya bisa dijadikan tulisan di blog ini, dan lewat begitu saja.
Tapi untuk yang satu ini saya tak igin melewatkan begitu saja karena beberapa pertimbangan yaitu, untuk agar saya tak bermalas-malasan yang berkepanjangan dan yang menjadi alasan keduanya adalah karena peristiwa yang saya tulis ini adalah dalam rangka memperingati haru ulang tahun kota Surabaya yang ke 717, dan saya sebagai warga Surabaya ingin untuk sekedar berpartisipasi dengan menulis peristiwa menarik ini disini.
Sudah menjadi kegiatan tahunan oleh Pemkot Kota Surabaya, nampaknya Parade Budaya ini akan dijadikan kegiatan routin dalam rangka menyambut hari jadi kota Surabaya, dan tahun ini parade tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2010 dan inilah beberapa catatan dari kegiatan tahun ini yang sempat saya tulis disini.
Parade Budaya kali ini, seperti tahun yang lau dilaksanakan pada sore hari denga pertimbangan kondisi udara Surabaya tidak begitu panas dan yang pertama saya memyaksikan adalah mobil hias dari DINAS INKOMINFO.

Mungkin acara ini dilasanakan atas prakasa dari Dinas Kominfo maka, mobil dinas inilah yang berada paling depan dan seperti taun yang lalu makan selanjutnya akan diteruskan dengan pasukan pembawa bendera Merah Putih, yang berjajar dengan gagah dan kelihatan berwibawa.



Kelompok Drum Band dari Taruna Angkatan Laut, Bumimoro, Ujung Surabaya.




Ini juga peserta yang menampilkan mobil hias nomer dua, sebuah sajian dari DINAS KEERSIHAN DAN PERTAMANAN Kota Surabaya.


Mobil hias dengan pesona daerah, inilah peserta yang datang dari Yogyakarta.







Ini juga peserta byang paling membuat penonton kagum, sebuah sajian dari pulau Madura, mobil yang dirancang sedemikian rupa dan digunakan untuk membawa perlatan tradisional perkusi.

Salah satu peserta yang menampilkan keserasian dan pakaian yang memikat.






Itulah sebagian para peserta PARADE BUDAYA dalam rangka HUT kota Surabaya yang ke 717, semoga pesta ini akan berlanjut di tahun yang akan datang,
SELAMAT HARI JADI KOTA SURABAYA, semoga akan menjadi kota yang ramah, dan nyaman buat warganya.

Lanjut Kang......

Mengapa lagi males ngeblog

Sudah hampir lebih dari tiga bulan sejak postingan terakhir saya, entah mengapa ? padahal banyak sekali yang mustinya  bisa di tulis disini, ada banyak kegiatan yang dilaksankan, banyak kejadian yang mestinya dikabarkan, tetapi mengapa semua berlalu begitu saja, bahkan untuk menulis parade budayapun saya harus mengakhri hanya sampai di draff saja, tak dapat kuteruskan, mbundel cupet wangsit hehehehe......tapi bagi temen2 yang suka jelajah jajan dan ingin ngicipi bersama, bisa kok klik di blog saya yg disini saya malah lagi banyak nrocos disana........

Lanjut Kang......

2 Januari 2010

Sebenar-benarnya aku ingin makan getuk di Gethukan



Pertemuan ini sebenarnya-benarnya sudah saya gadang-gadang sejak saya mengetahui akan dilaksankan acara oleh Balatidar yang tergabung dalam komunitas blogger Pendekar Tidar pada awal tahun baru tanggal 2 Januari 2010 di Kota Magelang bertempat di ringin alon-alon Kota Magelang yang rencananya dijadwalkan jam 15.00 WIB, mengapa saya ingin sekali ikut ?
ada beberapa yang membuat saya kepingin sekali menghandiri yaitu ; Sejak terbentuknya komunitas ini saya belum pernah sekalipun bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang telah dilaksanakan selama ini juga, maka ketika saya bisa hadir kali ini saya berharap bisa ketemu dan bersilahtaurahmi dengan teman-teman yang akrab di dunia maya, kedua ; pertemuan ini adalah pertemuan untuk meresmikan acara GETHUKAN, yaitu sebuah istilah yang digunakan oleh Bala Tidar sebagai istilah untuk menamai pertemuan yang diselenggarakan tiap Saptu [ kalau tak salah tiap minggu 1dan 3 ].
Namun mungkin belum waktunya saya bisa bertemu dan bersilahturahmi dengan sahabat-sahabat Bala Tidar saat ini, sebab rencananya saya Jum'at 1-1-2010 saya sudah berangkat meunju Magelang, tapi dasar belum waktunya, badan saya malah deman, panas dan dingin, ditambah batuk yang sakit sehingga si Non menyarankan untuk sementara janengan bepergian dahulu ke Magelang karena saya sedang sakit, ya karena memang badan juga rasanya capai sekali, maka dengan barat hati saya mengurungkan untuk berangkat ke Magelang.
Untuk ini, saya pribadi sangat kecewa, mohon maaf dan berharap semoga Gethukan ini dapat berjalan dengan bai.
Tulisan ini saya sampaikan sebagai mohon permintaan maaf saya karena ketidak hadiran di acara tersebut dan sebagai jalin silahturahmi buat Bala Tidar yang nanti sore datang di acara ini; selamat melaksanakan pertemuan semoga akan gayeng, menghasilkan hal-hal yang posotif dan sukses selalu.

Lanjut Kang......

29 Desember 2009

Malioboro Tahun Baru 1431 H.

Mengunjungi kota budaya Yogyakarta selalu tidak membosankan seperti hari ini. Meskipun sering pergi ke kota ini seakan selalu ada hal yang baru dan menarik dan inilah hal yang menjadikan tak bosan-bosannya berkunjung ke kota pelajar ini, kota Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.
Juga ketika liburan tahun baru Islam kemarin, yang secara kebetulan jatuh pada hari Jum'at, maka sampai Senin adalah long weekend bagi sebagian masyarakat, termasuk saya.
Tahun yang lalu liburan tahun baru Islam juga saya sempatkan untuk ke Yogja, dan saya berkesempatan menyaksikan upacara Grebeg Kraton, yang routin selalu diselenggarakan oleh keraton Jogja setiap tahun baru Hijriah dan menjadi daya tarik masyarakat Jogja khususnya dan masyarakat luar pada umumnya, namun karena lupa dan baru ingat setelah sampai di Magelang, padahal sebelumnya sampai di Jogja jam nya masih terlihat pagi dan saya teruskan untuk lihat grebeg tadi, tapi hari itu saya langsung menuju ke Magelang, dan ingat kalo ada acara itu pada siangnya ketika saya akan dolan ke Jogja....duh ruginya aku.... capek deh.


Dasar kaki tak bisa diam dan inginnya main saja kalau sudah sampai ndeso, maka hari itu saya bersama non, kakak dan keponakan-keponakan sepakat untuk melancong ke Jogyakarta dengan tujuan Malioboro, Jadilah hari itu kita berlima meluncur dan tiba di Jogja pada siang hari.
Tempat tujuan kita yang utama di Jogja adalah pertama berbelanja batik-batik di Pasar Bringharjo, Pasar tradisional ini selalu menjadi jujugan pertama bagi para pelancong yag ingin mendapatkan cinderamata dari kain-kain, khususnya kain batik, kain maupun segala baju-bajau bermotof batik udah didapatkan disini dengan corak dan harga yang variatif, tetapi menurut kami rata-rata harga disini cukup murah.

Menyusuri lorong dipasar ini terasa panas, banyak pengunjung memenuhi seluruh lorong-lorong yang ada di los pasar itu, bahkan saking banyak banyaknya pengunjung, baik yang mau beli sesuatu atau hanya sekedar melihat-lihat saja menjadikan udara terasa panas, dan itu membuat saya menolak diajak masuk kedalam, karena panas dan sudah beberapa kali disana, jadi lebih baik saya nunggu di pintu gerbang masuk pasar.
Sambil menunggu rombongan belanja di pasar, dasar lidah gatel, melihat makanan yang dijajakan persis didepan pitnu masuk pasar hati jadi tergoda.


dan dengan semangatnya aku pesan satu pincuk pecel untuk saya nikmati, sambil menunggu selesainya Non dan yang lain berbelanja

Menikmati pecel yang menggiurkan itu membuat saya lupa, tak terasa kalau Non dan yang lain sudah selesai berbelanja, dan langsung kutarik tangannya untuk segera meneruskan perjalanan menyusuri jalanan Malioboro yang lain.
Disepanjang jalan ii tak henti-hentinya saya selalu dibuat seneng dan kagum pada beberapa cinderamata yang ditawarkan, meskipun sering saya mengujungi jalan ini, tetapi selalu tak puas-puasnya saya menyempatkan membeli berbagai cinderamata yang menarik hati, khususnya t-shirt yang dijual lumayan murah.

Dan setelah beberapa saat mondar mandir kaya seterika akhirnya Non dan yang lain selesai berbelanja, tanpa menunggu lama lagi langsung aku ajak jalan menuju ke parkir kendaraan.
Dasar tangan gatal, sudah berbelanja beberapa waktu kebutuhan untuk oleh-oleh, masih saja di sepanjang jalan Non menawar sana sini untuk membeli yang lain.Tak ketinggalan saya, daripada bengong melihat ibu-ibu podo nawar barang, saya gunakan untuk memanjakan mata dengan elihat-lihat kerajinan yang bertumpuk tumpuk disana, dan salah satunya yang menarik mata saya adalah kerajinan sepeda dan becak-becak mini ini, sungguh detail mainan ini sesuai dengan aslinya, bahkan cenderung rapi dan tidak asal-asalan yang membuatnya.

Selesai berbelanja dan puas menikmati kermaian Malioboro kami sekeluarga meneruskan perjalanan untuk pulang, sebab hari itu sudah sore, saya tak ingin sampai di Magelang sudah malam, meskipun dekat tapi baiasanya jalan akan macet, khsusunya jalan masuk ke Magelangnya, jadi kami segera bergegas untuk pulang, tapi ditengah perjalanan saya ingat, kalau kita-kita ini sesdari siang belum makan siang, cuma saya aja yang sudah mencicipi pecel depan pasar tadi, jadi kami putuskan untuk mencari rumah makan dan akhirnya setalah dalam perjalanan kami mencari-cari maka sampailah kami di rumah makan ayam goreng mBok Berek.

Melihat bangunan ini, saya menduga kalau Rumah Makan ini masih baru, dan ternyata benar setyelah saya berhenti dan masuk ke halamannya, rumah makan ini baru diresmikan bulan November kemarin.
Dengan menempati halaman persis di samping jalan utama Jogja- Magelang, rumah makan ini tergolong mudah dijangkau. dan tentu sebagai rumah makan yang nJawani rumah makan ini mendekor bangunannya dengan gaya rumah desa, banguna yang penuh dengan pohon bambu dan atapnya bukan genteng.


Seperti rumah makan mBok Berek yang lain, rumah makan ini juga mengandalkan menu utamanya pada ayam goreng dan yang kami pesan adalah ayam goreng kremes dengan minum jeruk hangat, ditambah beberapa makanan yang lain sebagai pelengkap hidangan.


Makan dan minum yang saya pesan
Selesai menikmati hidangan dan merasa udah kenyang dan perut sudah tak menyanyi lagi, maka kami segera meninggalkan kota Jogja dengan perut yang sudah terisi, kenyang.....samapi di Magelang hari sudah sore dan sampai di rumah saya bergegas untuk mandi, sebab badan sudah terasa capek dan kotor, dan ingin istirahat sebentar karena malem saya sudah janjian sama keponakan-keponakan untuk jajan nasi goreng di tempat langganan kita.

Lanjut Kang......

20 November 2009

Menengok Kebesaran Majapahit

Sudah lebih dari 700 tahun peradaban Majapahit berlalu, namun kita punya keteguhan bahwa kebesarannya bukanlah sekedar sebuah memori, keunggulannya menjadi sumber inspirasi untuk menumbuhkan spirit dan mencipta karya yang bermanfaat bagi generasi sekarang.
Itulah sebait kata- kata yang tertulis dalam buku yang berjudul Mengenal Kepurbakalaan MAJAPAHIT Di daerah Trowulan.

Sungguh mengupas perjalanan sebuah kerajaan yang pernah ada di Nusantara adalah sangat menarik, apalagi kalau kitamembahas tentang sebuah kerjaan yang pernah tumbuh dan berkembang dan menjadi satu kerajaan yang besar yaitu kerajaan MAJAPAHIT, bahkan dalam sebuah catatan kerajaan Majapahit daerah kekuasaannya tersebar tidak hanya di Nusantara tetapi sampai di Asia Tenggara.
Kerajaan Majapahit sendiri didirikan oleh Raden Wijaya, beliau adalah raja pertama di Majapahit. Dan kerajaan ini awalnya berada di daerah Tarik dan karena di daerah tersebut banyak tumbuh pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaannya dinamakan Majapahit.
Dalam perkembangannya setelah Raden Wijaya memimpin kemudian diganti oleh Kaligemet atau Raden Jayanegara, selanjutnya karena terbunuh Jayanegara diganti oleh raja Patni dan bersama dengan patihnya Gajah Mada raja Patni berhasil menegakkan kembali kewibawaan Majapahit dan walau dalam perkembangan Majapahit pernah dibagi menjadi dua, tetapi akhirnya Majapahit dapat disatukan kembali.
Itulah sekelumit sejarah kerajaan Majapahit yang bisa disampaikan, sekedar untuk mengingat kembali betapa Kerajaan Majapahit bisa menjadi kerajaan yang termasyur di pelosok Nusantara bahkan sampai di benua Asia.
Situs bekas kota kerajaan Majapahit sampai sekarangpun dapat disaksikan yaitu di daerah Trowulan yang dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung yaitu, Gunung Penanggungan, Welirang dan Anjasmara.
Situs peninggalan kerajaan Majapahit ini  melalui penelitian yang panjang dan pertama kali oleh Wardenaar pada tahun 1815 dan secara terus menerus yang akhirnya sampai pada dilanjutkannya oleh Bupati Mojokerto yaitu R.A.A. Kromodjojo Adinegoro (1849-1916) dan penelitian ini tanpak intensif setelah beliau mendirikan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit ( OVM ) dan bekerja sama dengan Ir. Henry Meclaine Pont.


R.A.A. Kromodjojo Adinegoro inilah bersama dengan Ir. Henry Meclaine Pont yang kemudian yang secara intensif mengadakan penelitian-penelitian tentang situs Trowulan ini dan kemudian kantor yang dijadikan penelitian itu dijadikan meseum yang digunakan untuk memamerkan benda-benda peninggalan Majapahit.

Pada tahun 1926 terbuka untuk umum dengan nama Museum Purbakala Trowulan bertempat di Jalan Raya Surabaya - Jombang  Km.13.
Pada tahun 1987 dipindahkan ke Gedung Baru dengan nama Balai Penyelamatan Arkeologi (BPA) dan pada tanggal 1 Januari 2007 diganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit.


Penelitian yang dilakukan oleh Maclaine Pont antara tahun 1921-1924 adalah dengan maksud untuk mencocokkan dengan uraian yang ada di buku Negarakertagama, dan akhirnya dihasilkan Sketsa Rekontruksi Kota Majapahit di Trowulan.
Hasil penggalian situs Trowulan menunjukkan bahwa disini tempat terakumulasinya aneka jenis benda yang biasa disebut kota ini, tidak hanya situs tempat tinggal saja, tetapi juga terdapat situs-situs yang lain, seperti situs agama, situs upacara dan lain-lain termasuk didalamnya adalah situs waduk yang saat saya kesana saya bisa menyaksikannya secara langsung.
Pelestarian yang telah dilakukan telah menghasilkan rencana induk pelestarian untuk melindungi situs yang ada di trowulan.
Berdasarkan kegiatan arkeologis yang dilakukan menunjukkan bahwa situs ini merupakan situs penting dalam dunia arkeologi di Indonesia.

Dibawah ini saya coba untuk menampilkan beberapa foto yang sempat saya ambil ketika saya jelajah di bekas kerajaan Majapahit kemarin, dan inilah hasilnya :

 SURYA MAJAPAHIT adalah suatu bentuk ciri khas Kesenian jaman ini, peninggalan ini berbentuk lingkaran yang melambangkan sinar matahari, pada bagian dalamnya terdapat relief sembilan dewa yaitu ; dewa Siwa, Iswara, Mahadewa, Wisnu, Brahma, Sambhu, Rudra, Mahesora dan Sangkara. Sedang dewa minor berada pada sinar yang memancar, yang terdiri dari dewa Indra, Agni, Yama, Nrrti, Baruna Bayu, Kuwera dan Isana. Secara fungsional Surya majapahit berada di langit-langit candi dan atau terdapat di sandaran atau bagian belakang arca (stella) dan nisan-nisan kuno dari makam Tralaya.


Arca ini merupakan penggambaran dari miniatur candi, dimana  digambarkan terdapat relief cerita Hindu, mengenai pencarian air kehidupan ( Amerta ).

Arca Wisnu naik Garuda ini menceritakan Garudaya yang menggambarkan cerita asal muasal Garuda menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Arca ini diperkirakan di temukan di relung utama percandian belahan dan diperkirakan arca ini adalah perwujudan dari Raja Airlangga, seperti dalam ceritanya bahwa Raja Airlangga setelah membagi kerajaan menjadi kerjaan Jenggala dan Panjalu beliau mengundurkan diri dan menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Semasa pemerintahan Airlangga, beliau telah bisa meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan dan saat Airlangga wafat beliau diwujudkan sebagai Dewa Wisnu Sang Penyelamat dan pemelihara dunia, yang sedang mengendarai burung garuda.

ARDHANARI adalah sebuag arca perlambangan persatuan dewa Ciwa dan istrinya Parwati, oleh karenanya ia diwujudkan setengah pria dan setengah wanita.

Ganesha adalah anak Dewa Siwwa dengan Dewi Perwati. Ganesha mempunyai beberapa nama antara lain; Ganapati, Vighnaraja / Sidhinata, tapi lebih populer dengan sebutan Ganesha. Dalam Mitologi Aparajita Pracca, Ganesha disebutkan mempunyai ciri-ciri : Kepala Gajah, 2 tangan dibelakang masing-masing membawa peracu  akasamala, 2 tangan depan masing-masing mebawa mangkuk dan patahan gading, belailainya menghisap mangkuk uyang melambangkan ia sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan.


Bima : adalah penggambaran putra kedua dari lima bersaudara pandu.  Dalam dunia pewayangan bima adalah satu-satunya tokoh yang dapat memperoleh Tirta Pawitra Adi.
Seperti yang telah saya tulis terdahulu bahwa, penggalian situs Trowulan yang merupakan satu-satunya situs perkotaan masa klasik Indonesia, tidak hanya hanya menemukan situs perumahan saja tetapi juga menemukan situs-situs yang lain seperti situs perekonomian, situs Religi dan kesusanteraan.
Adapun situs yang terletak dekat dengan Pusat Informasi Majapahit adalah Situs Perumahan dan Situs Segaran.

Berdasarkan informasi seperti relief candi dan miniatur rumah terakota, maka dapat diperkirakan bahwa bangunan rumah tinggal pada masa Majapahit awalnya kontruksi bangunan tersebut terbuat dari kayu ang berdiri diatas batur. Dan didalam rumah tersebut dahulunya belum terdapat pembatas ruangan, penutup atapnya genteng, namun pada masa berakhirnya kerjaan Majapahit, tempat tinggal sudah memiliki pembatas.
Selain Situs perumahan yang ditemukan di dekat Situs Trowulan, ditemukan juga situs KOLAM SEGARAN, kolam ini merupakan salah satu dari 32 waduk / kolam kuno Mojopahit yang masih dapat dilihat sampai sekarang.
Bentuk Kolam adalah empat persegi panjang berukuran 375 m dan lebar 125 m, sedang dindingnya setinggi 3,16.

Kolam segaran ini letaknya persis di depan PIM, dan pada waktu ditemukan oleh Ir. Henry MP kolam ini masih berbentuk gundukan tanah rerumputan. Menurut cerita rakyat, kolam ini dulunya digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu para tamu dari luar negeri. Sementara peneliti yang lain mengatakan, bahwa fungsi kolam ini sebagai penambah kelembaban / kesejukan udara kota Majapahit.

Selain beberapa artefap artefak yang masih bisa disaksikan sebagai suatu peninggalan Kerajaan Majapahit masih terdapat beberapa peninggalan yang sampai saya sekarang belum sempat saya kunjungi antara lain ; Gapura bajangratu, Candi Tikus,  Situs Sentonorejo, makam Troloyo dan lain-lain peninggalan yang letaknya tidak jauh dari trowulan dan sekitarnya.
Saya berharap di jelajah yang akan datang saya dapat mengunjungi sebagian demi sebagian sehingga keseluruhan peninggalan Majapahit ini dapat saya saksikan semuanya.
Sungguh jelajah kali ini masih menyisakan keinginan yang harus terpenuhi dikelak kemudian hari, entah ketika saya sendiri atau dengan orang lain, ataupun ketika saya harus meluangkan waktu didalam disela-sela pekerjaan yang memang kesana kemari. Semoga.........!!!!



Lanjut Kang......

10 November 2009

Ketemu juga dengan The Gembell's

Pada bulan Februari tahun ini saya pernah menulis tentang pertemuan saya dengan beberapa personil band legendaris tahun 70 an, THE GEMBELL'S.
Pertemuan beberapa bulan yang lalu itu hanya sebuah pertemuan yang tidak disengaja, dan saat itu kami tidak bisa menyaksikan mereka menjajal kepiawaian mereka melantunkan lagu-lagu yang legendaris saat itu, selain karena mereka bertemu hanya ketemu dengan tidak sengaja, juga karena personil yang datang tidaklah utuh semua, kami saat itu hanya bertemu dengan Minto, Jaja dan Pardi Arpin jadi tidaklah semuanya saat itu bisa saya saksikan mereka berkumpul secara utuh.


foto bersam dengan cak Victor Nasution

Kesukaan saya pada The Gembell's seperti apa yang telah saya tulis di edisi yang lalu, bahwa hanya karena salah prsonilnya yang secara kebetulan adalah sahabat saya dan saya sering bertemu, maka dengan tidak sengaja dari obrolan dan ajakan Abah, membuat saya dengan secara tidak langsung mengetahui keberadaan band legendaris kota pahlawan ini, meskipun secara mengangan-angan bahwa group band ini sudah saya ketehui, jauh sebelum saya mengenal abah ini dan masih berada di kampung, di Magelang.

Seperti hari Kamis kemarin, ketika dengan tidak sengaja teman saya mengirim SMS lewat no telpon saya yang mengabarkan bahwa the Gembell's yang rencananya akan manggung bersama-sama Dewi Yul Tanggal 7 November 2009 di Balai Pemuda, malam ini akan manggung di rumah makan tempat kami pernah berkumpul dengan anggota the Gembel's yang lain, yaiotu di Makan Time, Resto Cafe di Jalan Dinoyo [ depan Univ. Petra ].
Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, meskipun saya harus datang sendiri ke tempat itu, malam itu aku berharap bisa menyaksikan penampilan mereka secara langsung dan pertamanya bagi saya, sejak saya mengenal group band ini.

Sampai di tempat itu,saya menyaksikan terlebih dahulu home band,setelah satu lagu selesai akhirnya waktunya the Gembell's beraksi.
Saya malam itu ingin menyaksikan penampilan secara langsung membawakan lagu-lagu koleksi mereka, tatpi khususnya lagu BALADA KALIMAS yang benar-benar saya tunggu penampilannya.
Sebenarnya saya pribadi agak kecewa dengan personil Band yang bisa datang, karena saya sebelumnya telah mendapat informasi bahwa ada beberapa anggotan band yang tidak bisa datang, yaitu Minto, Jojok dan Rudi Anam,Anas Zaman entah mengapa mereka tidak bisa datang, tapi untuk abah Minto saya mendapat kabardari telepon yang saya hubungi, bahwa beliau tidak bisa hadir karena sedang ada acara yang tidak bisa ditinggalkan di Bali, dan abah berpesan agar saya bisa menikmati penampilan The Gembell's walau tidak ada saya.
Malam itu personil Gembell's yang manggung adalah : Victor Nasution, Pardi Ani, Bram dan seorang lagi yang memegang Bass, yang aku lupa namanya, dan ditambah dua personil lain yaitu penabuh drum dan pemegang organ.
Suasana resto malam itu sangat ramai, seperti biasanya ( kata temen saya ) kalau tiap hari Rabu dan Kamis, resto ini selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung yang rata-rata usianya diatas 40 tahun. karena pada hari itu resto melalyui home band nya akan menyajikan lagu-lagu oldiest.
Entah manggungnya The Gembell's itu diundang atau tidak, yang jelas malam itu adalah malam pertama sejak beberap tahun belakang sejak group band ini tidak pernah manggung lagi, seperti yang dikatakan oleh teman saya.
Menyaksikan penampilan mereka serasa kembali saya ingat akan jaman-jaman group band yang sangat legendaris yaitu Koes Plus, sebab hampir lagu-lagu yang dinyanyikan membawa suasana tempoe doeloe, yaitu ketika musik aliran beatles berkembang dan sangat populer pada tahun 70 an.
Pun seperti lagu-lagunya The Gembell's seperti Balada Kalimas 70, lagu yang sangat populer dan menjadin trade mark nya group band yang dikomandani oleh Victor Nasution ini, juga lagu-lagu lain yang mereka bawakan, hampir seluruhnya adalah memiliki alur yang sesuai dengan jaman waktu itu.
Malam itu mereka menampilkan 9 lagu, baik lagu sendiri maupun lagu milik orang lain, dan membuat malam itu benar-benar penonton yang hadir hanyut dalam kenangan lama, kenangan ketika group band ini memiliki nama yang tak asing lagi bagi para pengunjung saat itu.
dan inilah beberapa nomor lagu yang dibawakan :
1. Suropati Wiraguna
2. Balada Kalimas
3. Hey Dokter
4. No One..... ( milik : tele santana )
5. Bunga Lalang
6. Peristiwa Kali Lima
7. Singosari
8. Gila

Menikmati lagu-lagu milik mereka sendiri sungguh sudah menjadi obat bagi saya untuk sebuah klangenan, yang selama ini hanya mendengar saja tentang keberadaan dan kepopuleran sebuah group yang lahir di kota pahlawan itu, tapi malam itu saya bisa mendengarkan secara langsung, bahkan bisa kenal dekat dengan seorang pentolannya, Cak Victor Nasution.
Selamat untuk The Gembell's, semoga di kesempatan lain saya bisa bertemu secara uth personil-personilnya. dan Bravo Gembell's tetap jaya dan akan selalu berkarya!!!

Lanjut Kang......