1. Pengantar.
Entah mengapa saya tiba-tiba ingin mengulas lebih banyak sebuah suku terasing yang ada di pedalaman Cagar Alam Morowali ( CAM ), Sulawesi Tengah.
Dan entah terdorong rasa apa saya, ingin kembali meneruskan tulisan saya tentang adat Suku Wana ini, seperti yang pernah saya tulis disini beberapa tahun yang silam.Sejak itulah saya sangat tertarik dengan segala sisi kehidupan suku terasing ini, bukan karena keaslian mereka yang sungguh menjadikan saya tertarik tetapi, mungkin secara jujur dalam hati saya ini tersimpan hal-hal yang sangat saya sukai pada hal-hal yang bersifat petualangan ke tempat terpencil seperti pada suku Wana ini.
Dan yang sangat menggangu pikiran saya bahwa keinginan untuk pergi mempelajari tempat-tempat di pelosok tanah air yang hingga sampai saat ini belum pernah sekalipun terwujud.
Meski mungkin tulisan ini sifatnya sangat sederhana dan jauh dari sempurna dan hanya melakukan perangkuman dari beberapa tulisan yang saya ambil dari beberapa situs terkait setidaknya, dengan tulisan ini saya bisa sedikit mempelajari sebuah suku pedalaman yang ada di Indonesia ini tanpa harus menjelajahi tempat dimana suku ini berada. Dan yang saat ini seperti sudah saya katakan, saya akan sedikit merangkum beberapa tulisan tentang suku TO WANA.
.jpg)
Landscap Morowali
2. Profil.
Tau Ta'a Wana atau berbagai kalangan masyarakat menyebutnya sebagai suku Wana adalah salah satu dari ribuan kelompok masyarakat adat yang terdapat di wilayah Cagar Alam Morowali, Sulawesi tengah.
Secara etnografis, Tau (orang) Ta'a atau orang Wana merupakan sub etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona, yang mendiami wilayah-wilayah sekitar sungai Bongka, Ulubongke, Bungku Utara dan Barong.
Pada umumnya Tao Ta'a Wana tersebar di bagian timur dan timur laut CA Morowali sampai bagian barat pegunungan Batui ( Kab. Banggai) dan pegunungan balingara ( Kab. Tojo Una-una ) an terkosentrasi di sekitar gunung Tokala,Kotopasa dan gunung lumut.
Tidak mudah untuk mendapati keterasingan mereka, dari kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga 3 - 4 hari untuk menjangkau kampung terdekat, itupun harus menyusuri jalan setapak sekitar dua hari serta naik turun bukit.
To Wana berarti orang dalam hutan, kata ini berasal dari bahasa Mori dan konon sebutan To Wana dipopulerkan oleh orang Mori.
peta-pemukiman-suku-wana.
Dalam lingkungan etnik Tau Taa sendiri meskipun kata To Wana tidak dikenal dalam bahasa mereka, namun tafsir sosiografis ini juga dikukuhkan oleh komunitas etnik Tau Taa yang telah mengalami sentuhan pembangunan dan telah hidup dalam tata pemerintahan desa, akan tetapi sebagai " Tao Taa Wana" lebih pas diberikan kepada mereka yang hidup secara tradisional di kawasan hutan.
Bahasa sehari-hari yang dipakai oleh suku Wana adalah bahasa Wana yang disebut juga dengan dialek Taa.

Dalam sebuah catatan disebutkan bahwa, suku To Wana dibagi dalam 4 suku besar yaitu : 1. Suku Brangas 2. Suku Kasiala 3. Suku Posangke 4. Suku Untunu Ve (hulu sungai)
Dalam catatan yang sama, bahasa Ta'a adalah bahasa yang paling banyak digunakan disekitar kawasan pesisir dan dataran rendah disekitar cagar alam Morowali.
Dan yang disebut masyarakat adat Ta'a Wana adalah kelompok Wana yang bermukim di pedalaman hutan dan pegunungan, mereka percaya bahwa akar leluhur mereka adalah satu berasal dari Tundantana, wilayah Kaju Marangka yang ada di kawasan Cagar Alam Morowali.
Kalangan antropolog mengenal mereka sebagai masyarakat Peburu dan Peramu, artinya mereka menggantungkan hidupnya pada berburu dan meramu binatang atau hewan yang didapatnya. Orang Wana dikenal memiliki ketrampilan berburu dan memasang jerat hewan yang handal, karena mengikuti pergerakan untuk berburu binatang, dulunya mereka rajin berpindah-pindah tempat tinggal.

Danau Morowali
Pada umumnya wilayah adat Tau Ta'a Wana tersebar di bagian timur dan timur laut Cagar Alam Morowali sampai bagian barat pegunungan Batui ( kab. banggai) dan pegunungan balingara ( Kab. Tojo Una-una ) dan terkosentrasi di sekitar gunung Tokala,Kotopasa dan gunung lumut.
Tidak mudah untuk mendapati eterasingan mereka, dari kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga 3 - 4 hari untuk menjangkau kampung terdekat, itupun harus menyusuri jalan setapak sekitar dua hari serta naik turun bukit, dengan luas sekitar 629,2 km2 atau 69,29 hektar.
4. Kepercayaan.
Kelompok masyarakat Tau Ta'a Wana rata-rata masih memeluk agama dan kepercayaan leluhurnya yaitu Halek / Khalaik, walau sebagian sudah memeluk agama Islam dan Kristen yang jumlahnya sedikit, dan pada umumnya mereka masih melakukan ritual-ritual peribadatan dan meyakini konsep-konsep pandangan dunia yang menjadi dasar agama leluhurnya.
Dalam keyakinannya, mereka akan mengucilkan warganya, bila didapati memeluk agama diluar Halek/Khalik.
Karena mereka hidup dalam wilayah pedalaman maka lingkungan alam sekitar mereka yaitu tanah dan hutan sebagai penopang hidup dan kehidupan masyarakatnya, sehingga kearifan lingkungan menjadi gantungan mereka, mereka percaya adanya Ruh ( spirit ) yang menjaga dan memelihara setiap jengkal tanah dan hutan maka, ketika terjadi kerusakan terhadap lingkungan itu merupakan tanda murkanya sang penjaga.

Maka sebagai penyeimbang atas kejadian-kejadian alam masyarakat Tau Ta'a Wana lantas memberi memberi persembahan atau sesajen ( Kapongo ) yang terdiri dari Sirih,Pinang,kapr dan Tembakau yang diletakkan dalam suatu "rumah" yang tingginya kira-kira 40-50 cm dari tanah.
Bahkan karena ketergantungan mereka degan alam, maka orang Wana banyak melakukan ritual pemberian sesaji/kapongo di beberapa kegiatan kemasyarakatan mereka, misalnya ;
a. Membangunaka = untuk menanam padi
b. Mmposo kiopo = membuka ladang
c. mangingka kapongo = mengambil roran
d. Memperapi Uja = meminta hujan
e. Memperapi Eo = meminta matahari bersinar terang
Namun justru untuk mendirikan rumah suku Wana tidak melakukan upacara Kapongo, dalam mendirikan rumah orang Wana benar-benar berpatokan semata-mata pada selera belaka, ini membuktikan bahwa cara pandang mereka terhadap alam lebih penting dibandingkan dengan tempat tinggal.

Penguasaan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan hutan tercermin dari klasifikasi/katagori mereka terhadap hasil hutan dalam 22 katagori untuk rotan dan lain-lain.
6. Sistem Pertanian.
Sistem pertanian yang dipakai adalah sitem perladanga dengan penebangan hutan sekunder, memakai alat-alat sederhana, tentu terlebih dahulu melakukan Kapongo dan pembukaan hutan tersebut disesuaikan dengan jenis ladang yang dibutuhkan.

Mereka juga membangun Kepe Pamuja Kodi yaitu, pondok kecil yang berfungsi sebagai tempat istirahaTanaman padi ladang merupakan tanaman yang penting bagi masyarakat Tau Ta'a (Wana) di Morowali, sebagai bahan pokok kehidupan mereka. Untuk tanaman semusim masyarakat Tau Wana tidak melakukan pengolahan tanah, dimana lahan yang habis dibakar langsung ditinggal untuk ditanami dengan benih padi
Sejak penanaman sampai pemanenan tidak mendapatkan perlakuan apapun, tanaman hanya bergantung pada daya dukung lingkungannya, terutama iklim. Tanaman padi ladang panen pada umurnya 4-5 bulan tergantung dari varietas yang ditanam.
Padi yang habis dipanen bulirnya diikat kemudian dijemur dan disimpan dalam lumbung yang terbuat dari kayu, dan akan ditumbuk dalam lesung jika mereka membutuhkan sesuai dengan kebutuhan konsumsi.

Selain padi/beras makanan pokok mereka adalah Ubi Kayu, ubi diambil dari sarinya / kanjinya untuk direbus dan dikonsumsi sebagai makanan pokok.
Pola pemukiman dan lahan pertanian secara berpindah merupakan pola yang berlangsung sampai sekarang.Pembukaan lahan untuk kepentingan pemukiman dan pertanian komunitas To Wana mengikuti dua pola.
Pola pertama, dan yang terbesar adalah pola perluasan langsung dan kedua pola berpencar.
Komunitas Tau Ta'a Wana juga mengenal sistem pembagian wilayah, yaitu :
a. Pangale : Kawasan hutan rimba yang dianggap sebagai kawasan sumber kehidupan.
b. Yopo : Kawasan sekunder, termasuk alang-alang yang merupakan bekas kebun lama
c. Navu: Adalah lahan pertanian rakyat
d. Pakanavu : Wilayah / lokasi bekas kebun yang baru di tinggalkan.

Menurut Ketua Adat Kayupoli ( Pak/Om Jima ), bahwa dalam membuka hutan untuk menjadi lahan pemukiman dan pertanian ada beberapa hal yang menjadi perhatian :
a. Hutan tersebut bukan hutan lokasi larangan
b. Hutan yang akan dibuka dirasa aman dari banjir dan longsor
c. Hutan yang dibuka harus memiliki pohon besar-besar sebagai ciri lahan itu subur.

Diluar kesibukan sebagai peladang, orang Wana juga melakukan pencarian hasil hutan sambil mengadakan perburuhan, pada umumnya kaum pria yang mencari rotan karena pertimbangan resiko, tetapi ada juga beberapa wanita yang melakukan, lokasi pencarian rotan biasanya todak jauh-jauh dari lingkungan mereka dan pola pencarian damar diantara suku-suku To Wana adalah sama, tetapi secara khusus pengambilan rotan pada daerah Kajopoli lebih banyak dilakukan daripada damar dari daerah lainnya.

Dalam pencarian rotan dan damar atau lainnya dilakukan juga perburan, dan perburuan ini dilakukan dengan 2 cara yaitu aktif dan pasif.
Aktif yaitu dengan jalan menggunakan sumpit (manyopu) dan pasif dengan cara memasang jerat.
ada 2 macam sumpit, yaitu yang beracun dan tidak beracun, yang beracun biasanya anak sumpit pada ujungnya diberi racun yang sangat mematikan yang disebut Limpo (berasal dari pohon limpo).
Perburuan ini bagi masyarakat Wana bukanlah merupakan pekerjaan utama, oleh karenanya tidak ada upacara khusus untuk ini.
Ada catatan yang perlu ditulis disini :
Suku Wana dulunya bermukim di kawasan pesisir, ketika kesultanan Islam melakukan expansi dan memaksa mereka untuk berpindah keyakinan dan membayar upeti mereka menolak dan merekapun memilih untuk masuk kehutan demi untuk menghindari.
Lalu mereka masuk kehutan dan membangun surga barunya sendiri disana, sejak itulah mereka disebut sebagai To Wana yang berarti "orang hutan".
Ketika Belanda Masuk, mereka menjadi sasaran pengejaran untuk memeluk agama Kristen, sambil memenuhi kewajiban membayar pajak, padahal lokasi mereka jauh dari hiruk pikuk keramaian, lagi-lagi mereka menolak dan merekapun terus bergerak masuk makin kedalam hutan, dan kembalilah mereka membangun surganya sendiri.

bahkan setelah Indonesia merdeka, ternyata mereka merasa tidak merdeka, karena aparat membujuknya untuk bermukim diluar hutan dan bujukan itu dibarengi dengan pamrih agar mereka menganut agama yang diakui oleh pemerintah.
Maka, dengan berpindah tempat dan lebih jauh masuk kedalam hutan mereka menghi ndar dan membangun surga untuk komunitasnya.
Semboyan mereka adalah : Tare kampung ( tanpa kampung ), Tare Agama ( tanpa agama ), Tare Pamarentah ( tanpa pemerintah , dan semboyan ini merupakan "piagam Hijrah" mereka. artinya Selamanya mereka akan menjadi komunitas adat yang bermukim di tengah hutan, dan tidak bersangkut paut dengan masyarakat lain termasuk pemerintah.
Warga suku Wana, seperti masyarakat adat lainnya merupakan kumpulan orang-orang yang tidak terlalu banyak mengumbar nafsu duniawi, mereka menggantungkan hidup sepenuhnya pada alam.
7. Hari esok suku To Wana
Ada tudingan bahwa kehadiran orang Wana di cagar alam Morowali akan merusak lingkungan hutan cagar alam mungkin akan menjadi benar, kalau di lihat dari perilaku orang Wana di pesisir belakangan ini, tapi perilaku yang demikian itu disebabkan oleh perkenalan mereka dengan ekonomi kota.
Untuk hal tersebut diatas maka perlu pengetahuan adat dan pengembalian pengetahuan asli yang akanmenyadarkan mereka tentang jatidii mereka dan, hal-hal mereka adalah alternatif yang mungkin bisa dilakukan untuk menjembatani al ini dan kearifan sangat mutlak diperlukan dalam menghadapi orang Wana, kalau tidak suku Wana dengan segala bentuk keunikan budayanya hanya akan menjadi "sejarah" belaka, padahal sku to Wana ini bisa dijadikan simbol penggambaran sejarah peradaban umat manusia dan dengan menjadikan masyarakat To Wana sebagai Cultural Heritage Site adalah jawaban yang dianggap paling masuk akal.
diambil dari berbagai sumber :
http://www.interseksi.org
http://blogcatalog.com
http://etnofilm.wordpress.com
http://lorelindu.wordpress.com
Dan tulisan ini disampaikan sebagai bentuk appresiasi penulis untuk suku Tau Ta'a Wana
9 Juli 2010
Suku Tau Ta'a Wana, Menengok kearifan suku terasing
29 Juni 2010
Pada suatu sore.......
14 Juni 2010
Sore di Pabean, melihat saudara kita juga
Terang sebentar lagi kita tinggalkan kawan......
dan digantikan dengan malam
seperti malam-malam kemarin
kita masih disini :
bercengkrama dengan bau amis
serta tumpukan ikan-ikan didepan kita.
dinginnya bongkahan batu es,
sesaknya orang-orang berjubel,
dan semua itu.....,
masih nafas hidup kita.
Sepatu ini masih harus kita pakai
karena jalan disini becek, basah dan kotor
tapi inilah keseharian kita
bau amis adalah detak kehidupan
beceknya lumpur adalah jalanan hidup
dan semua ini adalah detak jantung kita
yang akan selalu menjalar dalam
malam-malam kita selanjutnya
aku melihat kehidupan kawan bersama ikan-ikan
[Untuk sedulur yang bergumul dengan kehidupannya sendiri.....aku masih menjadi temanmu....]
3 Juni 2010
Menyelinap, menemukan sebagian kerinduan pada tanah leluhurku
Sedikit catatatn, karena hari itu adalah hari Jum'at maka dalam perjalanan saya mencoba untuk mencari masjid untk sholat jum'at dan saya menemulan masjid Nurul Huda di desa Sawo, Karangjati-Ngawi.
Tiba di penginapan hari sudah mulai malam, saya sudah tiba duluan ketimbang di hotel yang terletak tak jauh dari keraton jogjakarta itu, hotelnya tidak terlalu besar dan menurut tukang becak [ kebetulan orang Magelang] yang saya tanyai mengatakan kalau hotel ini baru, belum ada 2 tahun, jadi ya banyak orang yg beluam tahu, dan ini menjadi kan masalah kecil ketika saya harus tanya sana sini untuk mengetahui dimana lokasi hotel ini.
Dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya rombongan anak kami sudah datang, setelah mengemas dan menata tas bawaan adik dikamarnya saya kemudian meneruskan perjalanan lagi menuju ke Magelang, karena saya tak ingin sampai di Magelang larut malam.
Sampai di Magelang jam kira-kira sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. dan sudah ditunggu oleh bapak, ibu serta keponakan-keponakan di rumah Magelang, istirahat sebentar, mandi dan berbenah saya langsung mengajak semua untuk makan, karena sejak siang, saya, istri dan mbak perut belum terisi makan.
Malam itu saya ingin makan nasi goreng khas kota ini, saya langsung menuju ketempat yang tak jauh dari pusat kota dan sudah menjadi langganan saya beberapa tahun terkahir ini kalau saya pulang ke Magelang, yaitu di sebuah tempat makan yang ada di muka penjara [LP].
Selesai kami makan malam, sayapun langsung pulang ke rumah dan sampai di rumah saya langsung mak blessssssssssssss..............dan ngorok lagi, Wzzzzz...Wzzzzz..........krk...krk....... !!!
Saya berjalan menyusuri kampung-kampung, Karet, Jagoan dan dan kembali kerumah, menyusuri jalan-jalan disekitar tempat tinggal kami pada pagi hari sangatlah membikin hati ini terasa ayem dan tentu membangkitkan lagi memorabilia ketika saya masih hidup di kota yang bersih dan sejuk ini.
Sampai di rmah sayapun sebentar istirahat dan setelah beberapa saat mandi pagi saya mengajak Non untuk mencari sarapan pagi, sengaja memang ibu, bapak dan keponakan tidak ikut, karena keponakan-keponakan hari itu masih sekolah, ibu serta bapak yang setiap pagi menyiapkan keperluan mereka, pagi itu saya sekali lagi makan yang menjadi kegemaran kami setiap pagi kalau sedang pulang kampung yaitu, makan soto dan pilihan saya makan soto yang ada di Jl. Majapahit.
Selesai menikmati menu sarapan soto, saya berdua langsung ingun berputar-putar lagi menikmati kota ini, meski sering juga kita pulang, tapi ketika kita berkesempatan mudik maka inginnya kita selalu ingin keliling kota magelang, walau hanya sekedar menikmati suasana kota, syukur-syukur bisa ketemu sahabat lama dan bernostalgia segala hal yang pernah tersisa dikota ini.
Jajan soto di tempat ini tak pakai lama, biasa karea kita hanya makan berdua sama Non, jadi saya buru-buru pulang kerumah untuk beristirahat sebentar, tapi ada sesuatu yang menarik pandangan saya ketika saya menuju pulang, saya sempat menyaksikan seni instalasi dari sebuah rumah seni yang ada di dekat kampung saya yang lama, sesuatu yang membuat saya harus turun dari kendaraan untuk lebih dekat menyaksikan hasil karya seni ini

Seperti tulisan yang ada dalam t-shirt saya : SANG PEMIMPI, inilah perjalanan seorang bapak dengan keluarga yang memimpikan suasana keakraban dan menyenangkan, seperti sebuah MIMPI yang indah setalah kita bangun dari tidur, semoga........!!!!!!
23 Mei 2010
Sparkling Surabaya Heritage, Photography Competition.
Masih dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, kembali disajikan sebuah acara yang dikemas dalam TO SURABAYA WITH LOVE : Sparkling Surabaya Heritage yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 Mei 2010, acara ini disponsori oleh sebuah toko buku dan beberapa perusahaan da radio yang ada di kota Surabaya.
Satu hari sebelum dlaksankan acara ini saya telah mendaftarkan dahulu, sebab karena menurut saya ini adalah acara yang sangat cocok dan sesuai dengan kegemaran saya yaitu, yang berhububgan dengan heritage makanya saya tak ingin ketinggalan untuk ikut serta acaranya meski, awalnya saya sempat ragu karena acara yang berhubungan dengan competition photographi inilah yang pertama saya ikut, tapi dasar karena sudah kadung cocok dengan lebel yang ada dalam acara ini maka aku beranikan untuk mengikutinya.
Sabtu pagi jam 09.00 WIB kurang saya bersama teman dan anaknya sudah berada di tempat start kegiatan ini.Saya lihat pesertanya sudah lumayan banyak dan ketika saya datang, banyak peserta yang telah menunggu untuk diberangkatkan. Setelah saya registrasi saya langsung diberi kaos seragam dan bebrapa perlengkapan serta souvenir dari para sponsor.
Seperti yang saya katakan bahwa pesertamya ternyata benar cukup banyak dan harus dibagi dalam 4 bus, yang rata-rata sisnya 55-60 orang / bus. Karena peminatnya yang cukup banayak, panitia terpaksa harus mengganti salah satu bus nya dengan bus yang lebih besar karena ternya masih banyak peserta yang belum dapat tempat duduknya.
Setelah beberapa lama kita nunggu dapat pengganti bus, rombongan siang tu langsung ke tempat tujuan yang pertama : MONUMEN TUGU PAHLAWAN.
Patung Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, dilingkungan monumen Tugu Pahlawan.
Seperti kita ketahui bahwa masjid ini dibangun dengan bergaya mandarin, baik secara fisik maupun cat-cat yang digunakan dipastikan bergaya bangunan Cina.
Selesai di lokasi yang ke empat, perjalanan rombongan berjalan ke arah timur dan menuju ke titik point yang terakhir yaitu ke enam, JEMBATAN SURAMADU.
Sebagai empat yang masih tergolong baru dan merupakan lokasi yang masih dibilang favorit oleh masyarakat Surabaya dan Masyarakat luas, mengambil foto disini sangatlah menarik bagi saya, yang lagi belajar ber foto ria, saya jepret sana, jepret sini, pokonya sangat menarik selain lokasi yang lain yaitu Hotel Mojopahit.
Dan tanpa terasa saking asyiknya, panitia memberi komando untuk segera naik bus dan kembali ke Tunjungan Plaza untuk kemudian para peserta kompetisi inimenyerahkan beberapa file fotonya dan, venar karena perjalanan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk di setiap lokasinya [ kira-kira 30 menit ] maka tanpa terasa ketika kami tiba di lokasi finish acara ini, hari sudah menunjukkan sore hari.
Sungguh perjalanan yang mengasyikkan dan tanpa terasa saya telah menghabiskan waktu hampur 7 jam lebih bersama sahabat-sahabat yang lain familiar dan mengasyikkan, tentu hal ini membuat kami ingin mengulangi kompetisi kesemptan yang lain,karena dari hal-hal seperti inilah saya dapat belajar banyak tentang fotograpfi semoga !!!!!!Lanjut Kang......
19 Mei 2010
Parade Budaya 2010
Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak menulis disini, entah mengapa kok bisa lama sekali saya tak punya gairah untuk menulis, dan kemudian dijadikan postingan, saya sendiri heran kenapa, padahal menurut saya ya ....biasa-biasa saja, dan celakanya karena kemalasan ini sebetulnya ada beberapa moment yang seharusnya bisa dijadikan tulisan di blog ini, dan lewat begitu saja.
Tapi untuk yang satu ini saya tak igin melewatkan begitu saja karena beberapa pertimbangan yaitu, untuk agar saya tak bermalas-malasan yang berkepanjangan dan yang menjadi alasan keduanya adalah karena peristiwa yang saya tulis ini adalah dalam rangka memperingati haru ulang tahun kota Surabaya yang ke 717, dan saya sebagai warga Surabaya ingin untuk sekedar berpartisipasi dengan menulis peristiwa menarik ini disini.
Sudah menjadi kegiatan tahunan oleh Pemkot Kota Surabaya, nampaknya Parade Budaya ini akan dijadikan kegiatan routin dalam rangka menyambut hari jadi kota Surabaya, dan tahun ini parade tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2010 dan inilah beberapa catatan dari kegiatan tahun ini yang sempat saya tulis disini.
Parade Budaya kali ini, seperti tahun yang lau dilaksanakan pada sore hari denga pertimbangan kondisi udara Surabaya tidak begitu panas dan yang pertama saya memyaksikan adalah mobil hias dari DINAS INKOMINFO.
Mungkin acara ini dilasanakan atas prakasa dari Dinas Kominfo maka, mobil dinas inilah yang berada paling depan dan seperti taun yang lalu makan selanjutnya akan diteruskan dengan pasukan pembawa bendera Merah Putih, yang berjajar dengan gagah dan kelihatan berwibawa.

Kelompok Drum Band dari Taruna Angkatan Laut, Bumimoro, Ujung Surabaya.
Ini juga peserta yang menampilkan mobil hias nomer dua, sebuah sajian dari DINAS KEERSIHAN DAN PERTAMANAN Kota Surabaya.

Mobil hias dengan pesona daerah, inilah peserta yang datang dari Yogyakarta.
Ini juga peserta byang paling membuat penonton kagum, sebuah sajian dari pulau Madura, mobil yang dirancang sedemikian rupa dan digunakan untuk membawa perlatan tradisional perkusi.
Salah satu peserta yang menampilkan keserasian dan pakaian yang memikat.
Itulah sebagian para peserta PARADE BUDAYA dalam rangka HUT kota Surabaya yang ke 717, semoga pesta ini akan berlanjut di tahun yang akan datang,
SELAMAT HARI JADI KOTA SURABAYA, semoga akan menjadi kota yang ramah, dan nyaman buat warganya.
Mengapa lagi males ngeblog
Sudah hampir lebih dari tiga bulan sejak postingan terakhir saya, entah mengapa ? padahal banyak sekali yang mustinya bisa di tulis disini, ada banyak kegiatan yang dilaksankan, banyak kejadian yang mestinya dikabarkan, tetapi mengapa semua berlalu begitu saja, bahkan untuk menulis parade budayapun saya harus mengakhri hanya sampai di draff saja, tak dapat kuteruskan, mbundel cupet wangsit hehehehe......tapi bagi temen2 yang suka jelajah jajan dan ingin ngicipi bersama, bisa kok klik di blog saya yg disini saya malah lagi banyak nrocos disana........
Lanjut Kang......2 Januari 2010
Sebenar-benarnya aku ingin makan getuk di Gethukan
Pertemuan ini sebenarnya-benarnya sudah saya gadang-gadang sejak saya mengetahui akan dilaksankan acara oleh Balatidar yang tergabung dalam komunitas blogger Pendekar Tidar pada awal tahun baru tanggal 2 Januari 2010 di Kota Magelang bertempat di ringin alon-alon Kota Magelang yang rencananya dijadwalkan jam 15.00 WIB, mengapa saya ingin sekali ikut ?
ada beberapa yang membuat saya kepingin sekali menghandiri yaitu ; Sejak terbentuknya komunitas ini saya belum pernah sekalipun bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang telah dilaksanakan selama ini juga, maka ketika saya bisa hadir kali ini saya berharap bisa ketemu dan bersilahtaurahmi dengan teman-teman yang akrab di dunia maya, kedua ; pertemuan ini adalah pertemuan untuk meresmikan acara GETHUKAN, yaitu sebuah istilah yang digunakan oleh Bala Tidar sebagai istilah untuk menamai pertemuan yang diselenggarakan tiap Saptu [ kalau tak salah tiap minggu 1dan 3 ].
Namun mungkin belum waktunya saya bisa bertemu dan bersilahturahmi dengan sahabat-sahabat Bala Tidar saat ini, sebab rencananya saya Jum'at 1-1-2010 saya sudah berangkat meunju Magelang, tapi dasar belum waktunya, badan saya malah deman, panas dan dingin, ditambah batuk yang sakit sehingga si Non menyarankan untuk sementara janengan bepergian dahulu ke Magelang karena saya sedang sakit, ya karena memang badan juga rasanya capai sekali, maka dengan barat hati saya mengurungkan untuk berangkat ke Magelang.
Untuk ini, saya pribadi sangat kecewa, mohon maaf dan berharap semoga Gethukan ini dapat berjalan dengan bai.
Tulisan ini saya sampaikan sebagai mohon permintaan maaf saya karena ketidak hadiran di acara tersebut dan sebagai jalin silahturahmi buat Bala Tidar yang nanti sore datang di acara ini; selamat melaksanakan pertemuan semoga akan gayeng, menghasilkan hal-hal yang posotif dan sukses selalu.
29 Desember 2009
Malioboro Tahun Baru 1431 H.
Mengunjungi kota budaya Yogyakarta selalu tidak membosankan seperti hari ini. Meskipun sering pergi ke kota ini seakan selalu ada hal yang baru dan menarik dan inilah hal yang menjadikan tak bosan-bosannya berkunjung ke kota pelajar ini, kota Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.
Juga ketika liburan tahun baru Islam kemarin, yang secara kebetulan jatuh pada hari Jum'at, maka sampai Senin adalah long weekend bagi sebagian masyarakat, termasuk saya.
Tahun yang lalu liburan tahun baru Islam juga saya sempatkan untuk ke Yogja, dan saya berkesempatan menyaksikan upacara Grebeg Kraton, yang routin selalu diselenggarakan oleh keraton Jogja setiap tahun baru Hijriah dan menjadi daya tarik masyarakat Jogja khususnya dan masyarakat luar pada umumnya, namun karena lupa dan baru ingat setelah sampai di Magelang, padahal sebelumnya sampai di Jogja jam nya masih terlihat pagi dan saya teruskan untuk lihat grebeg tadi, tapi hari itu saya langsung menuju ke Magelang, dan ingat kalo ada acara itu pada siangnya ketika saya akan dolan ke Jogja....duh ruginya aku.... capek deh.
Dasar kaki tak bisa diam dan inginnya main saja kalau sudah sampai ndeso, maka hari itu saya bersama non, kakak dan keponakan-keponakan sepakat untuk melancong ke Jogyakarta dengan tujuan Malioboro, Jadilah hari itu kita berlima meluncur dan tiba di Jogja pada siang hari.
Tempat tujuan kita yang utama di Jogja adalah pertama berbelanja batik-batik di Pasar Bringharjo, Pasar tradisional ini selalu menjadi jujugan pertama bagi para pelancong yag ingin mendapatkan cinderamata dari kain-kain, khususnya kain batik, kain maupun segala baju-bajau bermotof batik udah didapatkan disini dengan corak dan harga yang variatif, tetapi menurut kami rata-rata harga disini cukup murah.
Menyusuri lorong dipasar ini terasa panas, banyak pengunjung memenuhi seluruh lorong-lorong yang ada di los pasar itu, bahkan saking banyak banyaknya pengunjung, baik yang mau beli sesuatu atau hanya sekedar melihat-lihat saja menjadikan udara terasa panas, dan itu membuat saya menolak diajak masuk kedalam, karena panas dan sudah beberapa kali disana, jadi lebih baik saya nunggu di pintu gerbang masuk pasar.
Sambil menunggu rombongan belanja di pasar, dasar lidah gatel, melihat makanan yang dijajakan persis didepan pitnu masuk pasar hati jadi tergoda.
dan dengan semangatnya aku pesan satu pincuk pecel untuk saya nikmati, sambil menunggu selesainya Non dan yang lain berbelanja
Menikmati pecel yang menggiurkan itu membuat saya lupa, tak terasa kalau Non dan yang lain sudah selesai berbelanja, dan langsung kutarik tangannya untuk segera meneruskan perjalanan menyusuri jalanan Malioboro yang lain.
Disepanjang jalan ii tak henti-hentinya saya selalu dibuat seneng dan kagum pada beberapa cinderamata yang ditawarkan, meskipun sering saya mengujungi jalan ini, tetapi selalu tak puas-puasnya saya menyempatkan membeli berbagai cinderamata yang menarik hati, khususnya t-shirt yang dijual lumayan murah.
Dan setelah beberapa saat mondar mandir kaya seterika akhirnya Non dan yang lain selesai berbelanja, tanpa menunggu lama lagi langsung aku ajak jalan menuju ke parkir kendaraan.
Dasar tangan gatal, sudah berbelanja beberapa waktu kebutuhan untuk oleh-oleh, masih saja di sepanjang jalan Non menawar sana sini untuk membeli yang lain.Tak ketinggalan saya, daripada bengong melihat ibu-ibu podo nawar barang, saya gunakan untuk memanjakan mata dengan elihat-lihat kerajinan yang bertumpuk tumpuk disana, dan salah satunya yang menarik mata saya adalah kerajinan sepeda dan becak-becak mini ini, sungguh detail mainan ini sesuai dengan aslinya, bahkan cenderung rapi dan tidak asal-asalan yang membuatnya.
Selesai berbelanja dan puas menikmati kermaian Malioboro kami sekeluarga meneruskan perjalanan untuk pulang, sebab hari itu sudah sore, saya tak ingin sampai di Magelang sudah malam, meskipun dekat tapi baiasanya jalan akan macet, khsusunya jalan masuk ke Magelangnya, jadi kami segera bergegas untuk pulang, tapi ditengah perjalanan saya ingat, kalau kita-kita ini sesdari siang belum makan siang, cuma saya aja yang sudah mencicipi pecel depan pasar tadi, jadi kami putuskan untuk mencari rumah makan dan akhirnya setalah dalam perjalanan kami mencari-cari maka sampailah kami di rumah makan ayam goreng mBok Berek.
Melihat bangunan ini, saya menduga kalau Rumah Makan ini masih baru, dan ternyata benar setyelah saya berhenti dan masuk ke halamannya, rumah makan ini baru diresmikan bulan November kemarin.
Dengan menempati halaman persis di samping jalan utama Jogja- Magelang, rumah makan ini tergolong mudah dijangkau. dan tentu sebagai rumah makan yang nJawani rumah makan ini mendekor bangunannya dengan gaya rumah desa, banguna yang penuh dengan pohon bambu dan atapnya bukan genteng.
Seperti rumah makan mBok Berek yang lain, rumah makan ini juga mengandalkan menu utamanya pada ayam goreng dan yang kami pesan adalah ayam goreng kremes dengan minum jeruk hangat, ditambah beberapa makanan yang lain sebagai pelengkap hidangan.
Makan dan minum yang saya pesan
Selesai menikmati hidangan dan merasa udah kenyang dan perut sudah tak menyanyi lagi, maka kami segera meninggalkan kota Jogja dengan perut yang sudah terisi, kenyang.....samapi di Magelang hari sudah sore dan sampai di rumah saya bergegas untuk mandi, sebab badan sudah terasa capek dan kotor, dan ingin istirahat sebentar karena malem saya sudah janjian sama keponakan-keponakan untuk jajan nasi goreng di tempat langganan kita.




