14 Juli 2008

TO WANA itu, The Folklife Performance

Entah mengapa hari Minggu 14 Juli 2008 kemarin itu saya ingin sekali menyaksikan pertunjukan yang satu ini. Meski saya sering nongkrong di Taman Budaya Timur dan seringkali menyaksikan berbagai pertunjukan disana, hari itu tidak seperti biasanya, keinginan untuk menyaksikan acara ini sungguh sangat ingin sekali kutonton, acaranya adalah penampilan kehidupan tradisi, THE FOLKLIFE FERMOMANCE : The Indigenous Forest – Dwelling People in Morowali Central Sulawesi. Untuk lebih sekedar menyampaikan apa yang sudah saya saksikan, saya mencoba menulis dengan harapan apa yang saya berikan ini akan bermanfaat bagi saya khususnya dan pembaca pada umumnya, sebab dengan tulisan ini saya bisa getok tular [ penyambung lidah] apa yang diharapkan penyaji yaitu adannya masyarakat yang peduli pada kehidupan masyarakat suku TO WANA yang hidup dalam keterasingan di hutan-hutan Sulawesi Tengah, dalam hal pendidikan dan kesehatan yang dibutuhkan. Inilah sedikit tentang To Wana itu;
PROFIL
To Wana atau orang Wana di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah menempati wilayah Kecamatan Bungku Utara dengan anak sukunya yakni Lalaeo, Brangas dan Topolempa. Sebagian mereka sudah menempati beberapa desa yakni Lemo, Taronggo dan Uemasi sementara yang lain masih menempati hutan-hutan yang sangat sulit untuk dijangkau. Wana berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti hutan sehingga To Wana berarti “orang hutan” atau masyarakat penghuni hutan. To Wana (outsider term) sesungguhnya adalah penamaan orang Belanda terhadap suku ini yang kemudian menjadi popular dan masih digunakan sampai sekarang. To Wana sendiri tidak keberatan dengan istilah tersebut meskipun mereka menyebut dirinya sebagai Topo Ta’a atau Ta’a Wana (insider term) yang berarti irang yang menggunakan bahasa Taa. To Wana dikenal sebagai peladang berpindah-pindah dengan system rotasi, menggunakan sistem barter dalam bertransaksi, mempunyai pandangan yang sederhana tentang hidup dan alam, sebagai penyumpit ulung dan mempercayai bahwa hutan adalah rumah sekaligus nenek moyang mereka.
The Folklife Perfomace “To wana : The Indigenous Forest-Fwelling People in Morowali” terdiri dari :
Kayori (Syair Pembuka )
Kayori adalah sastra tutur To Wana dalam mengungkapkan pesan melalui syair yang mengandung maksud tertentu secara tidak langsung. Musik Musik yang ditampilkan adalah medley dari beberapa musik To Wana seperti Talali (suling), Gaso-Geso ( alat gersek), Popondo (alat petik yang menggunakan bagian depan tubuh sebagai resonator), Tutubua (alat berdawai dari bamboo) gong dan ganda (gendang).
Tari-Tarian
Tiga jenis tari yang ditampilkan adalah Dendelu, Salode dan Tandebomba. Dandelu adalah tarian mellingkar dengan iringan syair-syair yang dinyanyikan oleh penarinya sendiri. Salonde adalah tarian yang dimainkan oleh para wanita Wana untuk menyatakan rasa syukur atas berbagai hal. Tandebomba adalah tari yang dimainkan oleh pria dan wanita.
Permainan Rakyat ( Mawinti )
Mawinti adalah permainan laki-laki To Wana dalam bentuk adu betis untuk mengisi waktu luang di dalam aktifitas yang berhubungan dengan pertanian msialnya awal menanam padi dan pada saat panen.
Atraksi Manyopu ( Menyumpit )
Menyumpit adalah salah satu aktifitas yang penting dalam kehidupan keseharian To Wana untuk keperluan beburu binatang seperti burung, monyet, babi serta berbagai senjata untuk membela diri dari berbagai ancaman.
Upacara Pengobatan ( Momago )
Upacara pengobatan atau Momago (mobolong ) masyarakat To Wana memanfaatkan kekuatan roh-roh yang bersemayam dialam seperti di pohon-pohon besar, di empat yang curam atau dimata air. Dalam upacara ini peran dukun (walia) sangat penting sebagai perantara kekuatan roh untuk menyembuhkan si sakit.
Upacara Momata
Upacara Momata adalah suatau upacara mayarakat To Wana untuk menghilangkan kenangan pada orang yang meninggal, tradisi ini ditandai dengan menghancurkan rumah yang mereka tinggali untuk berpindah ketempat lain. Tradisi ini dilakukan karena mereka percaya, bila ada yang telah meninggal di suatu tempat maka itu tanda ketidakberuntungan. Penghancuran rumah ini merupakan puncak kataris Orang Wana.
Itulah yang saya dapatkan ketika saya menyaksikan pertunjukan sampai selesai, ada rasa trenyuh, cinta dan benar ini adalah salah satu dari sebagian ribuah keanekaragman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, salah satu budaya yang wajib kita lestarikan, demi Indonesia yang ber Bhine Tunggal Ika.
sumber [ brosur, nonton langsung]