3 September 2013

Gua Pindul dan Sungai Oyo, Kecantikan ditanah kering

Jauh hari sebelum kawan saya mengajak untuk mengunjungi obyek wisata yang relatif baru ini, saya sebetulnya sudah punya keinginan yang sangat menggebu, kapan aku bisa mengunjungi obyek wisata yang menurut saya ini menarik lokasi maupun lingkungannya.
Obyek wisata yang satu ini memang sangat cocok dengan kegemaran saya, yaitu melihat-lihat kemudian memotret landscap yang masih nature atau yang terkesan alami.
Menjelajahi obyek wisata ini sebetulnya adalah satu dari dua pilihan yang masing-masing punya keunikan yang khas dari masing-masing pilihan saya saat itu, dua pilihan itu yakni. menghadiri Jember Fashion Carnaval yang sudah dua kali saya hadiri atau mengunjungi Gua Pindul dilain pihak.
Atas pertimbangan belum pernah mengunjungi dan browsing foto-foto di google akhirnya, saya memilih untuk ikut ajakan temen saya untuk mengantar sekaligus mengunjungi Goa Pindul yang menurut cerita temen-temen saya sangat dasyah.
Jum'at malam kami sudah meninggalkan kota Surabaya untuk langsung menuju ke tujuan, di daerah Jogyakarta, tepatnya ada di Bejihardjo,Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.
Sebelum sampai di tujuan pagi hari kami beristirahat sebentar di sebuah rumah makan untuk sekedar istirahat makan pagi sekalian ganti seragam.
Inilah Team Manulife Surabaya + Malang
Sampai di tempat tujuan yakni Goa Pindul waktu masih menunjukkan pagi, meski sudah agak siang jadi kami punya punya untuk beberapa saat isgtirahat dari perjalanan yang cukup melelahkan.
Inginnya pingin istirahat namun, kami sudah langsung diajak untuk mengikuti acara selanjutnya, yang pertama kami diajak oleh team yang sudah ada di lokasi untuk melakukan Outbond.
Disini kami disambut oleh team WIRAWISATA yang sengaja oleh kawan kami diminta untuk mengawal kami selama team kami ada disana, Wirawisata adalah sekelompok Karang Taruna yang ada di Bejiharjo yang sengaja didirikan untuk mengelola berbagai kebutuhan disana guna mendampingi para wisatawan yang mengunjungi Gua pindul dan lokasi sekitarnya.
Di desa ini selain kelompok Wirawisata masih terdapat beberpa kelompok lagi yang kegiatannya tak jauh beda dengan kelompok yang mendampingi ini, hanya lokasi penjemputan dan lain-lain yang tempatnya berbeda.
Kegiatan awal yang boleh dikata sebagai pemanasan badan, team kami diajak untuk melakukan Outbond dengan berbagai kegiatan yang menurut kami bagus dan terkesan sangat segar.
Kami diajak ke tempat khusus yang dimiliki oleh Wirawisata yng memang dipergunakan untuk acara ini, selain tempatnya tak jauh dari tempat kami sentra kegiatan tempat ini sungguh sangat nature (alami) sekali.
Beberpa permainan yang dilaksanakan oleh team pendamping memang bagi kami selain sebagai bentuk saling mengakrabkan juga sebagai sarana untuk lebih meregangkan otot-otot yang selama beberpa jam sebelumnya kaku oleh perjalanan yang lumayan jauh dari Surabaya ke lokasi ini.
Disini team kami diajak bermain yang lumayan lama, sehingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan siang hari, jadi kami langsung diajak kembali ke base camp kembali, dan sesampainya di base cam kami disuguhi aneka camilan sederhana khas desa ini,  dari makanan arem-arem, tahu isi ( tahu susur), lompia sederhana dan minuman teh manis yang segar khas ndeso itu.
Bukan bentuk makanan yang dihidangkan tapi karena kita lelah dan suasana yang akrab menjadikan makanan yang kita santap menjadi sebuah  hidangan yang sangat memberi arti.
Untuk hidangan yang khas ndeso ini, akan saya posting tersendiri bareng dengan berbagai menu yang kami jelajahi selama kami menemani team Manulife di blog lain saya disini.
Selesai menikmati jajahan sederhana dan istirahat beberapa saatk kami langsung melakukan persiapan untuk ecara inti yaitu menyusuri Goa Pindul.
Karena kami harus menyusuri sungai yang ada didalam gua maka, kami diberi peralatan pelampung (ban dalam) dan pelampung badan yang sudah disipakan oleh team pendamping, sehingga kami cukup memakainya dan tentu kami akan dikawal selama dalam penyusuran.
Inilah pintu masuk gua pindul itu, kami harus naik ban secara bergandengan, antara 5 sampai 6 orang untik satu team dengan 1 orang pengawas yang akan memandu selama kami didalam gua, selain mengawasi kai pemandu juga akan menerangkan tentang berbagai hal mengenai goa pindul ini.

Inilah pemandangan pintu masuk yang saya foto dari luar sebelum kami memasuki kedalam, dan pemandangan yang sempat kami foto ketika kami baru saja masuk didalam mulut gua itu.
Dan ini bagian dalam gua Pindul yang sangat fantastic, berbagai batuan stalagmit baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, menghiasi dinding-dinding gua yang membuat mata kita takjub akan keindahan dan kebesaran ciptaan Tuhan ini.
Ini juga salah satu pemandangan yang ada didalam gua, yang juga sangat menakjubkan, gua yang diatasnya berlubang dan sinarnya masuk melaui lubang yang cukup besar sehingga sinarnya yang jatuh kedalam gua menjadikan pemandangan yang juga sangat cantik.
Selang beberapa puluh meter kita berada dalam gua yang penuh dengan keindahan, maka kita akan sampai pada mlut gua yang juga tak kalah cantiknya, seperti dalam foto yang ada di kanan ini.
Selesai menyusuri Gua Pindul yang dasyat itu, team kami terus dibawa ke lokasi lain untuk kemudian melakukan acara selanjutnya, menyusuri sungai Oyo.
Jarak antara pintu keluar gua Pindul dengan sungai Oyo lumayan jauh, kira-kira 1 kilometer jadi rombongan kami harus diangkut dengan mobil secara berkelompok, kami menyusuri perbukitan yang kering disana sini kami menemukan pohon kayu putih yang didaerah ini menjadi andalan hasil bumi dan pertanian didaerah yang tergolong kering ini.
Akhirnya sampailah team kami di tempat yang menjadi awal penyusuran sungai disini.
Menyusuri sungai oyong sungguh suatu hal yang menakjubkan, sepanjang kiri kanan sungai kami disuguhi pemandangan dinding sungai yang sangat indah.

Lihat tebing sungai yang kami lalui, dikiri kanan nampak bebatuan yang sangat indah untuk dipandang.









Landscap yang indah yang saya temui ketika kami mengawali menjelajahi arus sungai Oyo.










Sudut lain sungai yang kami jelajahi siang itu, meski udara saat itu panas, tapi menyusuri sungai ini memberikan perasaan yang tentu sensasinya sangat luar biasa, tebing yang indah, sungai yang bersih serta pemadandangan alamnya yang jarang-jarang dinikmati, membuat perjalan kali ini bakal tak terlupakan.
Selesai menyusuri sungai oyo yang panjangnya lebih dari 2 km. membuat kami merasa kelelahan, tentu ini karena kami hars berpanas-panasan juga energi yang dikeluarkan ketika harus menjaga keseimbangan dengan alat yang kami bawa, dan kamipun diangkut kembali dengan angkutan yang sudah disiapkan oleh team pemandu kami.
Sampai ditempat Baase Camp, kami sudah disambut dengan satu hiburan yang bener-bener membuat merasa sangat alami, kami disajikan sebuah hiburan KARAWITAN yang dimainkan oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang tinggal di daerah sekitar base camp, tentu ini adala pemandangan yang sangat jarang dan membuat orang seperti kami (yang sulit menikmati hiburan ini) menjadi seperti disuguhi hal yang sangat nJawani.


Tidak hanya hiburan yang nJawani yang kami nikmati, tak kalah dasyatnya adalah ketika kami disuguhi pula makanan yang khas nDeso pula yang sengaja disajikan untuk menu makan siang.
Menyantap menu yang khas dengan iringan musik gamelan yang nJawani, ah..... membuat kami enggan untuk beranjak meninggalkan tempat ini.
Siang yang panas serasa hilang  ketika kami berbaur dalam keakraban penduduk lokal dengan keramah tamahan yang menyentuh  pikiran dan jiwa kami, membuat perasaan kita ingin selalu mampir dan bercengkrama dengan semuanya di lain waktu, dengan keindahan dan keramahan sebuah wisata, Semoga !!!!!

Lanjut Kang......

25 Desember 2012

"SAKERAH" Ludruk Karya Budaya - Mojokerto

Jarang saya menyaksikan sebuah pertunjukan seni Ludruk selama saya tinggal di Surabaya, malah bisa dihitung dengan jari saya bisa menyaksikan jenis hiburan yang menurut saya terbilang lawas dan asli Jawa Timur ini.

Mungkin karena saya tinggal di dekat Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) yang ada di Jl. Gentengkali ini hingga saya sering menyaksikan beberapa event kesenian yang digelar oleh TBJT ini, dari yang sifatnya periodik maupun yang bersifat insidentil, tapi memang dr sononya saya lebih tertarik dengan berbagai macam kesenian, bahkan dibilang tanpa pandang bulu, hehehehe
Seperti Malam itu tanggal 12 Desember 2012 saya niatkan untuk melihat seni pertunjukan Ludruk yang dimainkan oleh kelompok ludruk "KARYA BUDAYA" yang menurut kami group ini cukup memiliki nama dikalangan pecinta ludruk di Jawa Timur ini, sehingga menarik minat saya untuk melihat pertunjukan mereka malam itu yang saat itu membesut lakon yang sangat populer dikalangan pecinta seni tradisional yaitu cerita "SAKERAH"
Logo LUDRUK KARYA BUDAYA
Saya datang ke lokasi pertunjukan acara sudah dimulai, dimana saat itu sedang berlangsung dagelan, yang dimainkan oleh beberpa orang yang.
Saya masuk di "Gedung Cak Durasim" sudah dalam keadaan penuh dan gelap, saya coba untuk mengambil beberapa gambar (memang kesenengan saya memotret apa saja) tapi karena gelap dan jauh maka hasilnya tidak bisa maksimal, hingga saya berfikir lebih baik saya keluar dan me menuju ke belakang panggung tempat pertunjukan dilaksanakan dengan harapan saya dapat lebih jelas mengambil gambar adegan maupun pemain yang ada disana.
Benar apa yang saya perkirakan, didalam panggung meskipun gelap saya dapat mengambil gambar dengan leluasa dan bereksperiment dengan hasil yang saya foto, dan yang lebih menjadi perhatian saya adalah saya dapat dengan jelas merunut dengan jelas cerita yang dimainkan malam itu yaitu cerita "SAKERAH" dan, malam itu saya sempat merunut ceritanya seperti ini ;
Ketika saya datang cerita sudah masuk pada sesi dimana Sakerah sudah dimasukkan dalam penjara, jadi ya lumayan sudah agak telat saya menontonnya.
Sakera dalam penjara
Padahal sebelum adegan Sakerah masuk penjara tersebut banyak cerita tentang sepak terjang beliau yang saat itu bekerja sebagai mandor tebu. Ia dikenal sebagai mandor yang baik hati dan memperhatikan rakyat kecil, dan karena sifatnya yang demikian itu membawa Sakerah masuk kedalam Tahanan.
Sakera dan temannya di penjara
Dalam tahanan Sakera mendapat berita bahwa istrinya main serong dengan keponakannya sendiri yang bernama Brodin.
Sakera menjebol pintu penjara
Mendapat berita seperti itu Sakerah panas dan langsung memaksa keluar dari penjara menerobos penjara dengan menjebol pintu penjara.
Sampai dirumah Sakera mencari si Brodin dan akhirnya si Brodinpun diketemukan selamg beberapa saat oleh Sakerah akhirnya Brodin tewas ditangan pamannya sendiri.
Setelah membunuh keponakannya, Sakerah  kemudian balas dendam pada orang-orang yamg telah membuat Sakerah masuk penjara, mulailah yang pertama mencari Carik rembang yang menurut anggapan dia Pak Carik inilah orang yang membantu Belanda untuk menindas rakyat kecil.
Carik Rembang tewas
Setelah ketemu dengan Carik maka tidak berapa lama Sakerah kembali melayangkan cluritnya ke leher pak Carik sehingga menggeleparlah ia,kemudian mencari kepala Polisi dan berhasil juga ditebas tangannya karena berusaha menangkap dirinya.
Karena sikap Sakerah yang demikian membuat polisi kewalahan oleh karenaya dia mendatangi teman Sakerah sewaktu di perguruan untuk mencari cara bagaimana si Sakerah bisa ditangkap, dan oleh temannya diberitahu siasat bagaimana bisa menangkap Sakera yaitu dengan menanggap Tayub karena si Sakerah adalah penggemar atau senang dengan kesenian Tayub.
Sakerah menari tayub


gaya Sakerah



Dengan bantuan dua temannya dan beberapa orang yang lain akhirnya Sakera terjebak dan dapat dilumpuhnya oleh mereka.
Sekali lagi akhirnya Sakerah bisa ditangkap dan oleh polisi Sakerah dihukum gantung.
Para pemain SAKERAH

Kelompok Pengrawit 

Pemain Tayub

Travesti
Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai rasa terima kasih saya terhadap ludruk di Jawa Timur khususnya Ludruk Karya Budaya Mojokerto, Cak Edi Karya dan kawan-kawan yang ada di Karya Budaya yang telah menguri-uri seni pertunjukan tradisional ini, semoga kedepan kesenian Ludruk di Jawa Timur akan menjadi kesenian yang makin digemari oleh masyarakat luas, Semoga !!!!


Sumber :
- Pentas periodik di TBJT, 22-12-2012
- Wikipedia
- Foto koleksi pribadi

Lanjut Kang......

10 Juli 2012

Jember Fashion Carnaval 1012

Sudah sejak lama event ini saya sudah merancangnya untuk menghandiri, maka sejak beberapa bulan sebelumnya saya sudah daftar melalui websitenya,
Memang sejak menghadiri JFC tahun 2010  saya selalu ingin mengikuti event ini tiap tahunnya, tentu karena event ini menampilkan hal yang menurut sungguh lain daripada yang lain yang sungguh lain dari apa yang selama ini saya saksikan. 
Sebuah pertunjukan Fashion yang apik yang dikemas dalam nuasa yang glamour dan spektakulair
Seperti yang dahulu untuk JFC yang ke 11 ini rencananya juga berangkat berdua dengan teman saya yang juga sama-sama satu kampung namanya mas Ilyas,
Agar kita nyaman sewaktu hunting foto maka dua hari sebelum pelaksanaan acara ini saya dan mas Ilyas sudah terlebih dahulu berangkat ke Jember  pada malam hari dari Surabaya jam 01.00 wib dan sampai ke Jember hari masih pagi dan langsung kami menuju ke tempat yang telah ditentukan untuk mengambil ID card.
Suatu kebetulan juga sewaktu kami mengambil ID Card kami juga sempat ketemu dengan mas Dinan Faris sang penggagas acara ini di titik 0 (nol) kegiatan akbar yaitu di markasnya.

mas Ilyas, Dinas Fariz dan EM
Seperti pada waktu pengambilan ID Card, pada waktu hari H pelaksanaan JFC yang ke 11, saya juga tak ingin terlambat dan terjadi hal-hal yang tak saya inginkan saya sendiri (karena mas Ilyas ternyata tak bisa hadir) berangkat dari Surabaya jam 03.00 pagi dan sampai di Jember jam 10, sehingga saya bisa prepare untuk lokasi dan tempat yang disediakan untuk pengambilan foto bagi para fotographer, karena saya mendapat jatah di lokasi VVIP maka saya dengan leluasa dapat mengambil foto carnaval nantinya.
ID Card EM
Dan tepat pada jam 12.00 wib JFC ke 11 dengan tema  EXTRE MAGINATION ini dimulai dan inilah beberapa foto yang sempat kami ambil ;
Presiden JFC, sebelum dimulai
Peserta dari TK




























Ashanty Membuka JFC 2012

Ashanty
Empire

Madurese

Oceanarium








































Oceanarium

Oceanarium

Oceanarium
Persian

Persian

Persian








































Mashroom

Dragon

Trinidad

Planet Horedity
Itulah beberapa hasil foto saya di JFC XI tahun 2012, saya berharap untuk tahun yang akan datang saya dapat kembali menghadiri event yang spektaculair ini yang rencananya dilaksanakan selama 3 hari tanggal 23 s/d 25 Agustus 2013.
Sampai Jumpa


Lanjut Kang......

3 Juli 2012

Suku Talang Mamak, Peradaban Melayu Kuno

1. Selayang Pandang :

Suku Talang Mamak adalah suatu kelompok masyarakat adat yang merupakan suku asli Indragiri. Suku Talang Mamak tergolong proto Melayu atau Melayu Kono, mereka juga menyebutnya dengan istilah "Suku Tuha" yang bermakna bahwa, mereka adalah suku pertama yang datang dan berhak atas sumber daya di Indragiri Hulu.
Anak-anak Suku Talang Mamak
Keluarga Suku Talang Mamak
Ada dua versi sejarah tentang asal usul dan keberadaan Suku Talang Mamak ;
Pertama : Bahwa mereka adalah masyarakat yang terdesak akibat konflik adat dan Agama.
Kedua   : Bahwa Suku Talang Mamak adalah keturunan adam ketiga yang berasal dari kayangan turun ke bumi, tepatnya di sungai Limau, hal ini terlihat dari uangkapan : Kandal Tanah Makkah, Merapung di sungai Limau, menjeram di sungai Tunu" dan itulah manusia pertama di Indragiri nan bernama Patih.

2. Keberadaan :
Suku Talang Mamak tersebar di empat Kecamatan; Kecamatan Batang, Gangsal, Cenaku dan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dan ada satu kelompok lagi yang ada diwilayah Dusun Samarantihan  Desa Suo-Suo Kecamatan Sunai kabupaten Tebo, Jambi.
Peta Penyebaran Suku Talang Mamak
Pada tahun 2000 populasi Talang Mamak diperkirakan + 1341 kepala keluarga atau + 6418 jiwa
Menurut pemimpin adat suku Talang Mamak Patih Gading, luas areal Suku Talang Mamak berdasarkan  yang diakui Residen Belanda tahun 1925 adalah 48 ribu Ha. sekarang hanya tinggal 300 Ha, padahal pada tahun 2006 berdasarkan Surat keputusan Bersama (SKB) antara Bupati dan DPRD Indragiri Hulu, luas tanah Talang Mamak adalah 1.800 Ha.
Tetapi hutan adat yang disepakati tersebut kenyataanya dilanggar juga seperti dengan bertambahnya jumlah pendatang, belum lagi hutan mereka yang diubah menjadi hutan kelapa sawit oleh perusahaan-perusahaan juga termasuk adanya HPH.
Karena itulah maka Patih Lama akan mengembalikan Kalpataru yang diterimanya dari Presiden Megawati pada tahun 2002 kepada Gubernur Riau.
KALPATARU itu merupakan bentuk penghargaan yang diberikan kepafa Patih Lama yang atas jasa dan kerja keras suku Talang Mamak melestarikan empat hutan adatnya yang luasnya berkisar 18.800 Ha.
Pengembalian Kalpataru itu adalah merupakan bentuk protes mereka terhadap pengrusakan hutan adat suku untuk dijadikan hutan kelapa sawit
Patih Laman mengembalikan Kalpataru
"Lebih baik saya mati ditembak bila hutan kami yang tersisa inipun dijadikan kebun kelapa sawit" Ujar Patih Lama tetua suku Talang Mamak dengan sendu dan meneteskan air mata dalam sebuah situs Kompas.
Hutan itu dulunya sangat bagus dan indah, penuh pohon alam, tinggi menjulang dan asri, tapi kini hutan tersebut telah rusak, tak ada lagi pohon yang asri, yang ada hanya pemandangan tak ubahnya seperti lokasi perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Hutan Adat kini
Hutan adat Sungai Tunu dan Desa Talang Selantai sudah hilang sama sekali, hutan adat Suku Talang Mamak nyaris tinggal nama saja, walaupun tahun 2006 pernah akan diperkuat dengan payung hukumnya, tetapi sampai sekarang tidak ada ceritanya lagi dan pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu pun seakan tidak peduli dengan kerusakan itu.
Masyarakat Talang Mamak Protes ke DPRD







3. Budaya :
Suku Talang Mamak masih menganut Animisme, tetapi sebagian kecil sudah beragama, mereka membedakan  dengan Suku Melayu berdasarkan Agama, jika Suku Talang Mamak telah memeluk Agama Islam maka, berubah menjadi Melayu.
Suku Talang Mamak masih mempertahankan tradisi adatnya, seperti ranbut panjang, pakai sorban, giginya bergarang (hitam karena menginang).
Dalam kehdiupan adatnya, seperti suku-suku terasing lainnya, mereka masih melakukan upacara-upacara adat, mulai dari melahirkan samapi hal kematian.
Selain daripada itu Suku Talang Mamak mempunyai sifat yang sopan, jujur dan tidak mau mengganggu orang lain, bahkan mereka lebih baik menyingkir dan menghindar pergi daripada terjadi konflik.
Masyarakat Suku Talang Mamak merasa bangga akan kesukuannya, karena sejarah kepemimpinannya dimana Suku ini mempunyai peranan yang penting dalam struktur kerajaan Indragiri, yang secara politis juga ingin mendapatkan legimitasi dan dukungan darim kerajaan Pagarurung, bahkan sampai sekarang Suku Talang Mamak masih melakukan menyembah raja di Rengat pada Bulan Haji dan Hari Raya.
Mereka memiliki berbagai kesenian dalam hal pesta, seperti Pencak Silat, Tari badai Terbang, Tari Bulian dan main Ketebung.
Bahwa dalam hal-hal penyembuhan penyakit, seperti masyarakat pedalaman pada umumnya juga dilakukan ritual upacara tradisional dan selalu dihubungkan dengan alam gaib dengan bantuan sang Dukun.
Juga seperti suku Ta'a Wana, Suku Talang Mamak dibeberapa kelompoknya juga menolak buadaya luar  karena buadaya luar / modern dapat merusaka kehidupan / budaya mereka seperti dalam semboyan "Biar mati anak asal jangan mati adat ".
4. Lingkungan dan Perekonomian :
Sejak lama masyarakat Suku Talang Mamak hdiup damai dan menyatu dengan alam, karena hidup dihutan maka mengumpulkan hasil hutan dan melakukan perlandangan berpindah-pindah adalah sebagian cara hidupnya, bahkan hasil hutan mereka sejak abad ke 19 penghasilannya meningkat dengan pesat seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap hasil hutan.
Tetapi belakangan sejak abad ke 20, pasaran jadi lesu dan permintaan terhadap hasil hutanpun menjadi lesu, tetapi mereka masih tetap bertahan dengan mengadaptasikkan perlandangan berpindah dengan menanam karet sehingga menjadi penetap juga dengan demikian hal ini juga merupakan alat untuk mempertahankan lahan dan hutan.
Rumah Panggung Suku Talang Mamak
Dibawah kepemimpinan Patih Laman Suku Talang Mamak mempertahankan hutannya sehingga karena kerja kerasnya Patih Laman mendapat Award dari WWF dan beliau juga mendapat Kalpataru dari negara Indonesia itu.
5. Penutup :
Itulah sekelumit cerita tentang Suku Talang Mamak yang saya sarikan dari beberpa tulisan, yang kemudian saya coba untuk tulis kembali disini dengan harapan saya pribadi khususnya akan mendapaykan pelajaran yang sangat berharga dari sebuah komunitas suku terasing Suku Talang Mamak, karena dari kehudipan mereka inilah kita mendapatkan pelajaran tentang intisari kehidupan yang saling menghargai anatara manusia dengan manusia atau manausia dengan lingkungan mereka hidup, karena lingkungan dan kita adalah kehidupan yang saling membutuhkan.
Selain  itu pula dengan mengenal lebih dekat dengan Suku Talang Mamak, membuat kita sadar bahwa di negara yang kita cintai Indonesia ini masih banyak saudara-saudara kita yang masih hidup di pedalaman dan belum tersentuh dengan kemajuan, bagi saya biarkan mereka hidup dengan adat dan budayanya, tak perlu memaksankan kehdupan yg ingin kita berikan, karena mereka ternyata lebih nyaman dan bahagia dengan kehidupan mereka sendiri, tanpa harus di ganggu dan apalagi diganggu atau dicurangi.
Sekali lagi marilah kita belajar untuk lebih arif dan saling menghormati dengan lingkungan kita, dan atau masyarakat sekitar kita, khususnya masayarakat adat yang merupakan penyangga budaya dan kestauna  bangsa yang kita cintai ini.

sumber :

1. Tulisan diambil dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Suku Talang Mamak
2. Gambar diambil dari google

Lanjut Kang......