21 Desember 2016

Suku To Balo - Sulawesi Selatan

Pengantar :
Indonesia itu kaya, apapun yang ada di tanah tumpah darah ini merupakan visualisasi keberagaman yang penuh aneka warna dan menjadi satu kesatuan dalam INDONESIA RAYA.
Dari luasnya bumi Indonesia ini terdapatlah keragaman suku, budaya dan adat istiadat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan itu merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.
Dari berbagai kekayan bangsa Indonesia yang beraneka macam tersebut ada sebagian kekayaan yang patut dibanggakan dan dilestarikan keberadaanya di Bumi Pertiwi ini, yaitu keberagaam suku suku yang tersebar luas di seantero tanah air, salah satunya suku TO BALO yang ada di Sulawesi Selatan.

Keberadaan dan keanekaragaman suku dan adat istiadat inilah yang merupakan rangkaian bak MUTU MANIKAM yang menjadikan bangsa ini besar.
Untuk inilah saya mencoba merangkum dari beberapa catatan yang kemudian saya tulis disini tentang salah satu suku yang oleh pemerintah dikatagorikan sebagai suku terasing yang mendiami wilayah Sulawesi, yaitu Suku TO BALO.


1.       PROFIL :
Seperti sdh saya sebut sebelumnya,  Suku Tobalo ini mendiami di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya berada di desa Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting Kabupaten Baru, sekitar 70 Km arah tenggara dari Kota Barru.
Desa Bulo-bulo ini terdiri dari 6 dusun yaitu ;
  1.        Dusun Kombotti
  2.        Dusun Panggalungan
  3.        Dusun Maroangin
  4.        Dusun Labaka
  5.        Dusun Taipabalirae dan
  6.        Dusun Palampang

Desa Bulo-bulo dari sebuah catatan berpenghuni + 440 KK sekitar 1.720 jiwa, da ini sekarang sudah bisa dicapai dengan kendaraan roda empat meski kondisi jalan disana banyak reruhan tebing, bebatuan dan jurang-jurang yang berbahaya.
Di Desa Bulo-bulo inilah terdapat satu komunitas suku yang oleh pemerintah Sulawesi Selatan pernah dicatat sebagai suku (sekelompok masyrakat) terasing yaitu Suku To Balo.
Penduduk Desa Bulo-Bulo ini sebenarnya tidak hanya dihuni oleh Suku To Balo saja, disana juga didiami suku Makasar dan Suku Bugis yang merupakan penduduk asli.
Komunitas Suku To Balo ini juga sebenarnya juga suku asli yang mendiami Dusun Labaka yang hanya berpenghuni 50 KK , disini juga tidak hanya suku To Balo yg tinggal, masih ada suku yang lain. Dan Suku To Balo ini menempati di puncak ketinggian gunung tandus, sekitar 3 km dari pusat desa Bulo-Bulo.
Suku To Balo ini menempati puncak gunung tandus, dihiasi tebing-tebing berbatuan granit  bagaikan relief-Relief abstrak, yang pada puncaknya berupa padang sabana, menurut kepercayaan suku To Balo bukit-bukit serta padang sabana yang mengitari dusun ini merupakan lingkungan tempat tumbuhnya Aju Welenrengnge (pohon raksasa yang dalam mitologi La Galigo ditebang oleh Sawerigading untuk membuat perahu yang digunakan berlayar ke Tanah Cina ).
Juga menurut informasi, populasi suku To Balo ini terbatas tak boleh lebih dari 11 orang, jadi kalau terjadi kelahhiran makan akan berjumlah 12 orang, maka akan ada seseorang kerabatnya yang meninggal sehingga jumlahnya akan tetap 10 orang, cerita ini pernah, tak jelas apakah cerita ini benar, yang pasti bahwa cerita ini rercatat juga pada buku informasi wisata Kabupaten Barru berjudul " Barru dalam visualisasi" yang diterbitkan pemda Barru tahun 1997.
Selain keunikan tersebut suku ini juga dikatakan tidak mempan dibakar api, buktinya dengan contoh adanya Tari Sere Api, yaitu tari yang dilaksanakan dengan menari diatas bara api yang masih menyala.
Tari ini menurut kepercayaan mereka adalah tari ritual budaya suku To Balo yang mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran putra / putri penghulu suku To Balo, namun ada juga yang menganggap bahwa tari ini adalah tari yang menggambarkan pengungkapan rasa terima kasih atas hasil panen yang berlimpah, makanya tari ini sering dipadukan dengan tari Mappadendang yaitu tari Pesta Panen.
Tari Sere Api
Masayarakat suku To Balo ini secara fisik memiliki ciri khas sendiri yaitu, penampilan kulit yang putih (belang) pada bagian tubuhnya yaitu di kaki, badan dan tangan, dan yang unik adanya bercak putih yang ada di dahi yang berbentuk segi tiga, makanya mereka disebut juga dengan To = orang Balo=Belang yang berarti orang belang.
Kelainan yang diidap oleh Masyarakat suku To Balo bukanlah penyakit tetapi pembawaan gen. Akan tetapi, penduduk setempat meyakini sebagai kutukan dewa. Alkisah suatu hari, ada satu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Namun mereka Bukan hanya menyaksikan, keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku ke-2 kuda itu. Maka geramlah dewa lalu mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang atau belang. Lantaran malu dengan keadaan kulitya yang belang, keluarga tersebut memilih untuk hidup di pegunungan yang jauh dari keramaian. Ada juga cerita versi lain. Para kelompok Tobalo yakin, manusia dan kuda turun bersama dari langit kala bumi pertama diciptakan. Artinya, hewan berkaki empat itu bersaudara dengan Manusia.
Suku To Balo
Suku To balo menggunakan bahasa sendiri yang oleh mereka disebut bahasa Tobentong, bahasa ini merupakan perpaduan kode bahasa Bugis, Makasar dan Konjo, hal ini merupakan fenomena lingual yang langka, karena meskipun populasinya sedikit tapi mereka mempunyai dan mampu memelihara bahasanya sendiri sebagai simbol eksitensi mereka dan mereka menghormatinya.
Namun demikian mereka juga bisa menggunakan bahasa Makasar, Bugis dan Konjo untuk berkomunikasi dengan suku yang lain.
Karena ke khususannya ini maka sebagian peneliti menyebut suku ini sebagai suku Tobentong.

2.       PERIKEHIDUPAN
Karena merasa mereka adalah kelompok yang lain daripada masyarakat pada umumnya, yaitu karena perbedaan fidik khususnya kulit mereka, maka kelompok atau suku ini memilih tinggal jauh dari kelompok / masyarakat yang lain atau mengisolasi kelompoknya.
Karena keadaan inilah maka suku To Balo pun dalam kesehariannya mereka tidak menggunakan bahasa Tobentong seperti masyarakat disekitarnya, tapi memilih menggunakan bahasanya sendiri yaitu dialek To Balo sebagai bentuk eksitensi atau keberadaan mereka, meskipun mereka dianggap sebagai bagian dari  suku Tobentong.
Pun demikian mereka pada umumnya kawin dengan kelompok mereka sendiri sehingga dengan demikian akan keturunan mereka akan menghasilkan kulit yang sama, tapi jika mereka kawin dengan kelompok yang lainj, besar kemungkinan keuturnan mereaka kulitnya tidak seperti mereka saat ini.
Pada sumber lain ditulis bahwa suku Tubelong jumlahnya tidak lebih dari 10, jika lebih makan akan meninggal entah karena sakit ataun karena kecelakaan, dan saat ini populasinya tinggal 5 orang saja karena kawin dengan orang lain yang berkulit normal.
Kehidupan yang mereka lakukan dengan mengasingkan diri tersebut maka mereka semakiin lama semakin tertinggal khususnya anak-anak dibidang pendidikan, sehingga masih banyak anak disana yang belum bisa membaca.
Pemerintah daerah pun hanya menggunakan mereka sebagai obyek pariwisata saja, sehingga makin lama semakin menyakiti hati mereka, seharusnya pemerintah daerah pun lebih memperhatikan segi kualitas hidup dan kesehatan  sehingga mereka makin lama makin baik.
Seperti suku pedalaman yang lain yang hidup di hutan, suku To Balo pun memiliki kehidupan yang tak jauh-jauh dari hutan, yakni bertani, bercocok tanam dan membuat gula aren.
Selain itu suku To Balo ini juga berinteraksi dalam hal ekonomi dengan penduduk yang lain, yaitu dalam suatu waktu mereka menjual hasil pertaniannya di jual ke pasar Kamboti di desa Bulo-Bulo yang jaraknya lumayan jauh meskipun uang hasil penjualannya tidak seberapa, tapi bagi mereka menganggap hasilnya sudah cukup mebuta bahagia bagi mereka.

3.  Suku To Balo Sekarang
Kehidupan suku To Bali saat ini sepertinya tidak pernah berubah dari waktu ke watu, tapi beberpa waktu terakhir suku ini sudah mulai dimasuki dan menerima beberapa budaya yang masuk ke tempat mereka,seperti misalnya di sana sudah ada sekolah, bahkan anak-anak di sana sudah terbiasa untuk sekolah meskipun dalam bentuk yang sederhana, tapi walau bagaimana secara perlahan dan pasti pendiuduk suku To Bala akan membuka pada peradaban kemajuan, meski dalam batas-batas tertentu mereka akan tetap menyakini dan menjaga hal-hal yang bersifat spiritual di lingkungan mereka.

Semoga dengan tulisan ini kita sebagai bangsa Indonesia semakin bangga dan cinta pada keanekaragaman pada negeri ini yang didalamnya terdapat banyak suku bangsa, bahasa dan adat istiadat yang merupakan satu kesatuan RATNA MUTU MANIKAM.



=Baik teks maupun foto diambil dari berbagai sumber dengan berbgai tambah kurang dg tidak menghilangkan makna tulisan aslinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar